Penurunan Kinerja Pertambangan, Pengaruhi Ekonomi NTB di 2018

Editor: Mahadeva

MATARAM – Kinerja sektor pertambangan di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu faktor penting pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. 

“Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010, pertumbuhan ekonomi 2018 terhadap 2017 mengalami kontraksi sebesar 4,56 persen” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Suntono, Rabu (6/2/2019).

Kontraksi pertumbuhan tersebut, lebih dikarenakan adanya penurunan kinerja pada Subkategori Pertambangan Bijih Logam. Penurunan dibanding kondisi 2017 tersebut, berdampak pada penurunan nilai tambah bruto, yang cukup berarti pada Kategori Pertambangan dan Penggalian.

Di 2018, kategori pertambangan dan penggalian, mengalami kontraksi sebesar 33,71 persen. Selain itu, terjadi kontraksi pertumbuhan pada kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 4,59 persen. Hal itu, sebagai dampak dari gempa bumi yang melanda NTB di 2018 lalu. “Perekonomian Provinsi NTB yang diukur dari PDRB selama 2018 sendiri mencapai Rp123,87 triliun atas dasar harga berlaku, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp90,32 triliun,” ungkapnya.

Adapun di 2017, PDRB atas dasar harga berlaku dan konstan masing-masing sebesar Rp123,86 triliun dan Rp94,64 triliun.  Suntono menyebut, kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda Motor, serta kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan, masih menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi NTB di 2018.

Disaat pertumbuhan ekonomi NTB tertekan oleh kinerja pertambangan bijih logam atau konsentrat, aktivitas pertanian, perdagangan, konstruksi, transportasi dan jasa keuangan masih mampu tumbuh.  “Kondisi itu, mengurangi dalamnya konstraksi pertumbuhan ekonomi NTB yang tertahan pada angka -4,56 persen,” tandasnya.

Pertumbuhan tersebut, disumbangkan oleh kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 0,70 poin. Kemudian, diikuti kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 0,36 poin. Ekonomi NTB selama 2018, didominasi oleh sektor primer.

Share tertinggi terhadap PDRB berturut-turut adalah, kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan seebsar 23,40 persen. Kemudian kategori Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 14,49 persen. Selanjutnya, kategori pertambangan dan penggalian sebesar 13,98 persen. Pertumbuhan ekonomi NTB terpengaruh fluktuasi pertambangan bijih logam.

Sementara, jika tanpa Subkategori Pertambangan Bijih Logam, pertumbuhan ekonomi di 2018 mencapai 3,08 persen. Angka pertumbuhan tersebut, lebih rendah dibandingkan kondisi di 2017 yang mencapai 7,11 persen. Dan gempa bumi menjadi penyebabnya.

Sebelumnya Gubernur NTB, Zulkiflimansyah, mengakui pembubaran dan penjualan saham PT. Daerah Maju Bersaing milik Pemprov NTB sebesar enam persen, kepada perusahaan tambang emas PT. Aman Mineral yang sebelumnya bernama PT. Newmont Nusa Tenggara, diakui cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi NTB.

Sebagian besar ekonomi NTB, disumbang dari sektor pertambangan. Meski demikian, Zul optimistis, akan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi NTB melalui sektor pariwisata dan pertanian, tanpa harus bergantung dengan sektor pertambangan.

Lihat juga...