Peran Penting Monumen Perjuangan Segoroyoso

Editor: Mahadeva

252

YOGYAKARTA – Sebelum mangkrak karena rusak diguncang Gempa Bumi 2006, Monumen Perjuangan Segoroyoso, yang ada di Desa Segoroyoso, Pleret, Bantul, ternyata memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi warga sekitarnya. 

Sapto Hadi Ketua RT 1 padukuhan Segoroyoso 1,- Foto: Jatmika H Kusmargana

Sapto Hadi, Ketua RT 1 Pedukuhan Segoroyoso 1, menyebut, monumen yang dibangun sebagai tetenger perjuangan masyarakat Segoroyoso, bersama para pejuang dibawah pimpinan Letkol Soeharto selama masa Agresi Militer ke II itu, memiliki fungsi sejarah dan fungsi sosial.

“Monumen ini memiliki fungsi penting. Selain menjadi bukti keterlibatan masyarakat Segoroyoso dalam berjuang mempertahanan kemerdekaan, juga menjadi pusat kegiatan kemasyarakatan. Seperti menggelar acara kumpulan RT, ibu-ibu PKK, hingga lokasi pertemuan legiun veteran se-kecamatan Pleret. Tapi karena rusak, sekarang tidak pernah digunakan lagi,” ujarnya kepada Cendana News.

Dengan kondisi demikian, warga berharap, pihak-pihak terkait dapat merenovasi, dan membangun kembali bangunan bersejarah tersebut. Monumen Segoroyoso, dibangun pada 1983. Namun, karena guncangan gempa di 2006, monumen tersebut saat ini dibiarkan mangkrak tidak terurus. Sejak kerusakan 12 tahun lalu, belum ada renovasi sekalipun dilakukan.

“Tentu masyarakat berharap agar bisa dibangun lagi. Agar generasi muda tahu sejarah, bahwa orang tua, kakek, nenek mereka, pernah ikut berjuang selama masa perang kemerdekaan, dibawah kepemimpinan Pak Harto,” tambahnya.

Sebelum mengalami kerusakan, Monumen Perjuangan Segoroyoso dikelola oleh pemerintah. Orang tua dari Sapto Hadi, ditugaskan Dinas Sosial untuk merawat Monumen tersebut, sebagai tenaga honorer. Sempat diteruskan oleh kakaknya, monunen tersebut kini tidak ada lagi ada yang mengurus.

Hendri Santoso, cucu lurah Segoroyoso, Soegardo Utomo, pemilik rumah yang dijadikan sebagai markas pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Terakhir yang mengurus kakak saya. Tapi lalu berhenti sejak rusak akibat gempa. Sekarang secara resmi tidak ada yang ditunjuk untuk mengurus Monumen ini. Saya sebagai ketua RT bersama masyarakat hanya berinisiatif sendiri, untuk sesekali merawat, sesuai kemampuan agar eksistensi dan yuridiksi monumen ini tetap terjaga,” tuturnya.

Tokoh masyarakat setempat, Hendri Santoso, yang merupakan cucu lurah Soegardo Utomo, pemilik rumah yang dijadikan sebagai markas pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto, berharap agar Monumen Perjuangan Segoroyoso dapat dibangun kembali.

Menurutnya, Monumen Perjuangan Segoroyoso, memiliki fungsi penting, sebagai sumber sejarah bagi masyarakat. Khususnya warga Desa Segoroyoso, yang pernah memberikan sumbangsih, dalam membantu pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. “Untuk pelajaran anak-anak generasi sekarang. Bahwa dulu Segoroyoso pernah menjadi markas penting para pejuang selama masa perang kemerdekaan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...