Perbankan Diminta Bantu Usaha Desa di Kotawaringin Timur

149
Produk UMKM, Ilustrasi -Dok: CDN

SAMPIT — Perbankan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, diminta membantu pelaku bisnis di desa untuk mengembangkan usaha sehingga membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

“Saya mendapat telepon dari kawan-kawan di Kecamatan Telaga Antang dan Parenggean yang menjadi pengepul buah sawit. Mereka minta difasilitasi ke bank agar mudah mendapatkan pinjaman modal,” kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kotawaringin Timur Susilo di Sampit, Kamis (14/2/2019).

Permodalan masih menjadi kendala yang banyak dihadapi pelaku usaha di Kotawaringin Timur. Banyak pelaku usaha kesulitan mendapatkan pinjaman karena banyaknya syarat yang diberlakukan bank, khususnya terkait agunan.

Susilo berharap perbankan tidak hanya membantu pelaku usaha skala besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang berjuang mengembangkan usaha. Mereka juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat pelayanan terbaik dan kemudahan mengakses pinjaman modal.

“Perbankan diharapkan mempunyai komitmen yang sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pelaku usaha kecil dan menengah memerlukan dukungan, apalagi mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat pelaku ekonomi kerakyatan,” katanya.

Jika pelaku usaha kecil dan menengah juga mendapat akses kemudahan pinjaman modal, Susilo yakin dampaknya akan sangat luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah. Dampaknya sangat besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan upaya pengentasan kemiskinan.

“Saya yakin, Insya Allah itu bisa dilakukan. Ini diperlukan sinergi bank untuk membantu membangun ekonomi, tanpa membeda-bedakan karena seluruh pelaku usaha mempunyai hak yang sama untuk sukses,” ucap Susilo.

Kepala Desa Pundu Kecamatan Cempaga Hulu, Sugianto mengakui perlunya dukungan modal untuk pengembangan usaha. Seperti yang sedang dialami Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di desanya yang saat ini sangat membutuhkan tambahan modal untuk pengembangan usaha di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Tahun ini kebijakan perusahaan mitra kami, berubah-ubah. Kami (BUMDes) disamakan dengan investor sehingga kami membutuhkan modal menjadi antara Rp120 juta hingga Rp500 juta supaya kami bisa menjalankan satu minggu untuk membeli buah sawit,” kata Sugianto.

Usaha di sektor perkebunan kelapa sawit masih prospektif meski saat ini kondisinya belum sebagus dulu. Dengan luas kebun sawit milik masyarakat yang totalnya mencapai 3.700 hektare dengan hasil panen sekitar dua ton per hektare, potensi usaha di bidang ini dinilai masih menjanjikan.

“Usaha yang dijalankan sejak 2017 dengan modal awal Rp72 juta, saat itu mampu untung Rp43 juta dan pada 2018 keuntungan naik menjadi Rp133 juta. Peluang usaha di bidang ini masih cukup besar, namun BUMDes membutuhkan tambahan modal untuk pengembangan usaha,” ujarnya. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...