Pesona Patah Tulang sebagai Tanaman Hias

Editor: Satmoko Budi Santoso

641

BOGOR – Walaupun mayoritas tanaman patah tulang hanya terlihat batang dan daun saja, tapi tanaman ini termasuk salah satu tanaman favorit masyarakat untuk dipajang di teras rumah.

Bahkan, bagi para warga etnis Tionghoa, salah satu varietas tanaman patah tulang dipercaya mampu membawa kebaikan pada orang yang menanamnya.

Patah tulang atau yang dikenal dengan nama Euphorbia merupakan tanaman perdu yang tumbuh di wilayah tropis. Kekhasan dari tanaman ini adalah batangnya yang beruas. Tanaman patah tulang merupakan tanaman berkayu, bercabang banyak dan bergetah.

Staf Agro Taman Buah Mekarsari, Sodikin, menceritakan, bahwa getah tanaman tulang ini termasuk berefek keras.

“Pernah ada yang menggunakan getahnya untuk mengobati sakit gigi. Ternyata mempengaruhi gigi lain. Jadi keropos giginya,” kata Sodikin di Area Nursery Taman Buah Mekarsari, Jumat (22/2/2019).

Tanaman patah tulang memiliki banyak varietas. Ada yang bisa tumbuh tinggi, ada juga yang tumbuh merunduk dan menyemak.

“Salah satu varietas patah tulang yaitu cucak rowo, bisa tumbuh hingga 1 meter, jika tidak dipangkas,” ujar Sodikin.

Pengembangbiakan patah tulang biasanya menggunakan sistem stek batang.

“Bisa juga menggunakan bijinya. Tapi di Mekarsari, biasanya menggunakan stek batang. Karena prosesnya lebih cepat,” papar Sodikin.

Pemotongan batang untuk kepentingan pengembangbiakan biasanya diambil dari ruas batang yang sudah tua. Dengan panjang sekitar 15 cm.

“Kita ambil yang di bawah buku-bukunya. Karena bagian ini proses tumbuh akar dan tunas barunya lebih cepat. Kita tancapkan di tanah. Sebaiknya, pilih tanah yang subur atau di kompos. Nanti dalam kurun waktu 2 bulan sudah tumbuh tunas baru dari buku-bukunya. Bentuknya seperti bulatan kecil berwarna hijau terang,” urai Sodikin.

Tanaman patah tulang ini termasuk tanaman yang tidak rewel. Bisa bertahan di udara yang panas dan mampu tumbuh baik di udara dingin.

“Dari tumbuh tunas baru, paling cepat masuk ke masa berbunga itu sekitar 6 bulan. Kalau kita letakkan di lokasi yang terkena panas matahari secara langsung, akan terlihat pengaruhnya pada kelopak bunga dan lembar daun. Akan muncul warna merah atau sekadar semburat merah,” kata Sodikin lebih lanjut.

Sodikin menyebutkan, tanaman patah tulang ini biasa dijadikan tanaman hias untuk acara, terutama jenis runduk dan menumpuk.

Salah satu varietas tanaman patah tulang – Foto: Ranny Supusepa

“Beberapa jenis patah tulang yang ada di Nursery Taman Buah Mekarsari belum masuk masa berbunga. Tapi tetap bagus jika dipergunakan untuk hiasan indoor atau di teras rumah,” ujar Sodikin seraya menunjukkan salah satu jenis patah tulang yang daunnya bergerombol.

Sodikin menyatakan, habitat asli tanaman patah tulang adalah di daerah tropis. Tapi tetap mampu tumbuh baik di daerah sub-tropis.

“Umumnya ada yang menanam sebagai tanaman pagar. Sejauh yang saya tahu, baru sebagai tanaman hias. Di Mekarsari biasanya, dijual dalam pot. Untuk fungsi pengobatan memang disebutkan di beberapa literatur. Tapi belum saya teliti secara mendalam,” ungkapnya.

Beberapa hama yang dapat menyerang tanaman patah tulang adalah Meloidogyne incognita, Cuscuta spp dan Botrytis spp.

“Botrytis menyebabkan kebusukan pada akar dan batang pada kondisi panas serta lembab. Gabungan Meloidogyne dan Botrytis akan menyebabkan kerusakan mampu terjadi dalam waktu singkat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...