hut

Petani di Barito Kuala Hadapi Problem Pemasaran

BANJARMASIN – Petani di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, masih menghadapi problem pemasaran hasil usaha mereka, seperti bidang perkebunan.

Wakil rakyat asal daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Selatan (Kalsel) III/Batola, Karlie Hanafi, Kalianda mengemukakan permasalahan tersebut di Banjarmasin, Sabtu.

“Permasalahan pemasaran hasil usaha tani tersebut, mereka sampaikan ketika saya reses beberapa waktu lalu pada lima desa di Kecamatan Mandastana dan Kecamatan Wanaraya, Batola,” ujarnya.

Karlie yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel itu menyatakan, turut prihatin atas permasalahan yang konstituennya hadapi seperti harga komoditas yang mereka jual terlalu murah pada tingkat petani.

Sebagai contoh buah jeruk Siam Banjar saat panen harga setempat hanya Rp3.500/kg, sementara di Handil Bakti yang cuma berjarak sekitar lima kilometer mencapai R6.000 atau sampai Rp7.000/kg.

Menurut mantan aktivis mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu, untuk meningkatkan harga hasil usaha petani “Bumi Salidah” Batola tersebut yaitu bagaimana cara memutus “mata rantai” pemasaran atau permainan tengkulak.

“Saya berkeyakinan, kalau warga tani tersebut bisa melempar hasil usahanya langsung ke pasaran atau tanpa perantara, maka mereka bisa menerima harga yang lebih memadai,” tutur laki-laki yang berpengalaman dalam dunia bisnis itu.

“Upaya lain, mungkin dengan cara mendirikan/membangun industri pengolahan dari hasil usaha tani warga Batola tersebut sehingga bisa mendatangkan nilai tambah, baik bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat,” demikian Karlie Hanafi.

Usaha atau mata pencaharian penduduk Batola tersebut sebagian besar di bidang pertanian secara umum, yaitu selain tanaman pangan, juga peternakan serta perkebunan di antaranya perkebunan jeruk dan kelapa sawit.

Untuk meningkatkan produksi padi Batola yang juga merupakan “lumbung padi” Kalsel, di daerah pertanian pasang surut yang berbatasan dengan Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng) tersebut, belakangan terus ada pembukaan lahan/pencetakan sawah hingga ratusan hektare.

Pembukaan lahan/pencetakan sawah itu antara lain melalui proyek atau kegiatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang peringatannya tahun 2018 untuk Indonesia dipusatkan di Desa Jejangkit Kecamatan Mandastana, Batola (sekitar 35 kilometer barat Banjarmasin). (Ant)

Lihat juga...