Petani Donggala Kesulitan Air untuk Garap Sawah

189
Kekeringan, ilustrasi -Dok: CDN

DONGGALA, SULAWESI TENGAH — Anggota DPRD Sulawesi Tengah Muhammad Masykur mengemukakan petani di Kabupaten Donggala Donggala khususnya di Desa Sumari dan sekitarnya di Kecamatan Sindue tidak dapat menggarap sawahnya kurang lebih 500 hektare karena kesulitan air.

“Nampak sebagian dari lokasi tersebut kini ditanami jagung dengan mengandalkan sumber air hujan. Namun resiko gagal panen menanti,” ucap Muhammad Masykur, di Palu, Rabu (20/2/2019).

Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Tengah itu mendesak Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, agar segera memperbaiki atau merevitalisasi bendungan irigasi di hulu sungai Desa Sumari Kecamatan Sindue, untuk mengembalikan fungsi dengan baik.

Petani dalam melaksanakan kegiatan pertanian dan perkebunan sangat bergantung terhadap air dari bendungan irigasi di bagian hulu Desa Sumari itu.

“Pemerintah Daerah terkait kerusakan pintu Irigasi Sumari di Desa Sumari Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala akibat bencana gempa 28 September 2018. Irigasi itu perlu segara diperbaiki,” kata dia.

Ia menyebut hingga saat ini belum ada langkah penanganan masalah itu oleh pemerintah mulai terjadi bencana gempa melanda daerah itu, hingga saat ini.

Padahal petani atau masyarakat sangat membutuhkan peran cepat pemerintah daerah menyelesaikan problem yang dialami termasuk membangun kembali bendungan irigasi itu.

“Progres atau respon pemerintah setempat terhadap rusaknya sumber pengairan tersebut, belum ada. Sementara petani berharap perlu segera upaya perbaikan,” terangnya.

“Desakan petani memang sudah seharusnya direspon oleh pemerintah daerah. Tidak mungkin kondisi demikian dibuat berlama-lama. Menundanya sama dengan memperpanjang kesusahan petani,” sebutnya.

Harun, salah seorang petani di Desa Sumari berharap pada pemerintah, bila ingin memperbaiki kondisi setelah perisitiwa bencana gempa, maka sumber penghidupan petani diutamakan. Masalah utama ialah irigasi rusak. Jika curah hujan tinggi pintu air irigasi jadi tertutup lumpur. Begitu juga sebaliknya, air tidak bisa mengalir masuk ke irigasi. Irigasi Sumari dibangun sejak tahun 1980-an. Saat itu bangunannya masih sebatas bagaimana mengatur aliran air sungai masuk ke pintu irigasi. Karena kebutuhan perluasan areal persawahan, pemerintan sudah beberapa kali melakukan perbaikan, terakhir diperbaiki tahun 2016. [Ant]

Lihat juga...