Petani Jagung di Lamsel Dibayangi Anjloknya Harga Jual

Editor: Koko Triarko

266

LAMPUNG – Jelang puncak panen raya jagung yang akan tiba bulan Maret mendatang di Lampung Selatan, harga jual justru terus mengalami penurunan. Petani pun mengaku resah, terlebih dengan adanya jagung impor yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.

Udin, salah satu petani jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyebut dua pekan sebelumnya harga jagung masih bertengger di angka Rp5.800 per kilogram untuk jagung pipilan, atau yang sudah digiling. Harga tersebut masih dialami petani yang menanam jagung pada  bulan Oktober hingga November 2018.

Udin ,pemilik kebun jagung yang sudah dipanen di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Menurutnya, pergerakan harga komoditas jagung terjadi dalam hitungan hari, sejak petani mulai melakukan pemanenan. Bagi sejumlah petani yang melakukan pemanenan awal, masih mendapatkan keuntungan dari harga jagung yang masih tinggi.

Namun, saat ia panen, harga jagung mulai terjun pada angka Rp5.500 hingga akhir bulan Februari mencapai Rp4.700, bahkan Rp3.900 per kilogram.

Mengatasi harga jagung yang terjun bebas, Udin memilih menjual jagung dengan sistem karungan. Sebanyak 300 karung jagung bisa menghasilkan sekitar Rp16 juta, dengan asumsi harga Rp4.000 per kilogram.

Ia menyebut, dengan menjual sistem karungan dengan harga Rp70.000 per karung, dengan jumlah sekitar 200 karung, ia bisa mendapatkan hasil penjualan sekitar Rp14 juta.

“Menjual jagung dengan sistem pipilan atau dijual kiloan jika diperhitungkan masih akan mengeluarkan biaya operasional untuk menyewa alat perontok jagung dan biaya angkut,” terang Udin, saat ditemui Cendana News, Sabtu (23/2/2019).

Udin menyebut, menjual jagung dengan sistem karungan bagi petani lebih efesien dan menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk upah buruh petik dan upah angkut. Penjualan jagung dengan sistem karungan juga membuatnya tidak harus memikirkan limbah janggel jagung atau bonggol jagung.

Janggel jagung kerap menjadi limbah yang mengotori halaman rumah, sehingga saat dijual dengan sistem karungan ia tidak perlu memikirkan membersihkan limbah perontokan jagung.

Pilihan menjual jagung dengan sistem karungan, juga dilakkan oleh petani lainnya di wilayah tersebut.

Sobri, salah satu petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, menyebut penjualan jagung dengan sistem karungan banyak dipilih petani dengan alasan lebih hemat. Ia juga beralasan, harga jagung yang terus turun membuat sejumlah petani memutuskan menjual dengan sistem karungan untuk kepraktisan.

“Harga jagung mengalami penurunan setiap hari, sementara biaya operasional cenderung naik, maka petani memilih menjual dengan sistem karungan,” beber Sobri.

Harga jagung pipilan yang dijual per kilogram, sebut Sobri, pada akhir Februari mendekati angka Rp3.700, bahkan berpotensi menyentuh angka Rp3.000 per kilogram.

Menurutnya, harga tersebut masih sangat merugikan bagi petani karena biaya bibit, operasional pengolahan lahan, pupuk, obat-obatan, cukup besar. Sesuai perhitungan, petani masih bisa impas jika harga jagung pada level petani dibeli oleh pengepul dengan harga di atas Rp4.000 per kilogram.

Sobri juga menyebut, harga jagung di gudang dengan kualitas sedang dijual dengan harga Rp5.500 hingga Rp5.600 per kilogram. Sebaliknya, harga jagung dengan kualitas asalan dijual dengan Rp5.300 hingga Rp5.400 per kilogram.

Harga yang terus turun, membuat petani jagung merasa resah. Terlebih harga jagung bersamaan dengan sudah mulai berlangsungnya curah hujan di wilayah Lampung Selatan. Kondisi tersebut berpengaruh pada kualitas jagung akibat kadar air yang lebih tinggi.

“Harapan petani jagung, harga di tingkat petani masih bisa menutupi biaya produksi, jangan sampai justru petani mengalami kerugian,” beber Sobri.

Sobri menyebut, selain harga jagung yang anjlok, masuknya jagung impor dari luar negeri yang dijadikan bahan pembuatan pakan membuat harga jagung di level petani terpuruk.

Sejumlah petani berharap, agar pemerintah bisa ikut membantu petani dalam penentuan harga jagung, sehingga tidak merugikan petani.

Harga jagung yang kerap anjlok di saat panen raya, disebutnya semakin merugikan petani, karena masa panen bersamaan dengan musim hujan, yang berimbas sulitnya proses distribusi hasil panen sekaligus kadar air yang tinggi.

Baca Juga
Lihat juga...