Polres Banyumas Ungkap Kasus Prostitusi Online

Editor: Koko Triarko

511

PURWOKERTO – Jajaran Polres Banyumas berhasil mengungkap kasus prostitusi online dan mengamankan satu tersangka atas nama APP (28), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang sudah lama menetap di Banyumas. APP diamankan, karena terbukti menawarkan Pekerja Seks Komersial (PSK) melalui akun media sosial miliknya.

Kasat Reskrim Polres Banyumas, AKP Gede Yoga Sanjaya, mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari patroli cyber Polres Banyumas yang menemukan ada tawaran prostitusi di salah satu akun twitter. Tim langsung menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan.

ʺAkun milik tersangka ini menawarkan perempuan-perempuan secara vulgar dan memposting beberapa foto perempuan. Kita telusuri dan akhirnya terungkap kasus prostitusi online ini,ʺ jelas Kasat Reskrim, Rabu (6/2/2019).

Tersangka diamankan pada Jumat (1/2/2019), saat itu ia membuka kamar di salah satu hotel di Kota Purwokerto, atas pesanan salah satu pelanggan. Saat itu juga, polisi langsung melakukan penangkapan.

Dari lokasi, petugas mengamankan satu pack alat pengaman, HP milik tersangka dan milik pekerja perempuan yang disediakan tersangka.

Tersangka memiliki 15 orang pekerja perempuan yang berhasil direkrutnya, namun yang aktif hanya sekitar enam orang.  Usia pekerja antara 20-30 tahun. Tarif yang dikenakan antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Dari setiap transaksi, tersangka mendapatkan fee antara Rp350 ribu sampai Rp500 ribu.

ʺPraktik ini sudah dilakukan tersangka sejak awal 2018, salah satu pekerjanya ada yang merupakan mahasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto. Cara kerja tersangka, konsumen akan memesan dan mengirim DP ke rekening tersangka, kemudian tersangka akan melakukan pemesanan kamar hotel dan mengirim pekerja ke hotel tersebut,ʺ terang Kasat Reskrim.

Sejauh ini, sudah ada tiga orang saksi dari pekerja tersangka yang dimintai keterangan, serta dua orang saksi dari pekerja hotel. Baik pekerja atau pun konsumen didominasi warga Banyumas dan sekitarnya.

Kasat Reskrim mengatakan, tersangka hanya satu orang. Pekerja seks yang bekerja kepada tersangka, sejauh ini hanya sebagai saksi. Sebab, yang aktif dalam transaksi prostitusi online tersebut adalah tersangka.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 45 ayat 1 jo Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang ITE, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Lihat juga...