hut

PPIB Berharap Sentra Pasar Ikan Hias Langsung Ekspor

Editor: Mahadeva

BEKASI — Paguyuban Pembudidaya Ikan Bekasi (PPIB) berharap memiliki sentra pemasaran ikan hias langsung ekspor. Diharapkan pemerintah baik daerah, provinsi atau pusat dapat membantu merealisasikannya.

Keberadaan sentra pemasaran ikan hias diyakini dapat mengangkat nasib petani ikan hias. Selama ini, pendapatan petani ikan hias masih belum maksimal, karena banyaknya regulasi. Dampaknya, secara ekonomis petani hanya bisa menjual kepada pengepul.

Chairman PPIB Andri Samudra – Foto M Amin

“Selama ini, pemasaran ikan sebelum diekpsor, harus melalui empat tahapan. Pertama, dari petani ikan, ke bakul atau suplayer, baru ke agen kemudian ke Eksportir. Artinya yang menikmati tetap eksportir, sementara petani, hanya mendapatkan beberapa persen dari harga yang ditetapkan pasar dunia yang menggunakan kurs dolar,” tutur Chairman PPI Bekasi Raya, Andri Samudra, kepada Cendana News, Senin (4/2/2019).

Pemerintah disebutnya, harus hadir di tengah petani ikan hias. Hal itu dapat dilakukan, dengan membuat sentra pemasaran langsung ekspor. Diyakini keberadaanya akan berdampak positif kepada petani. Usaha budi daya ikan hias akan lebih bergairah dan tidak lagi diatur oleh empat tahapan tersebut. Dicontohkannya, ikan hias jenis Discus, ukuran dua inci, dibeli dikisaran Rp10 ribu perekor. Saat masuk karantina, dan diberi standarisasi, setelah itu ekportir bisa menjual satu ekornya mencapai lima dolar mengukuti harga standar pasar dunia.

“Dengan harga lima dolar sesuai harga pasar dunia kita kalkulasikan satu dolar ke rupiah Rp12.500 saja, maka harga perekor bisa mencapai Rp100 ribu. Kenapa Pemerintah tidak bisa hadir, dengan selisih harga dari petani begitu besar,” ungkap Andri.

Kehadiran Pemerintah di pasar ikan hias langsung ekspor, dimaksudkan dengan menciptakan satu pasar langsung. Keberadaanya dibentuk oleh lembaga independen seperti koperasi. Ke depan, pasar yang ditunjuk dapat memfasilitasi pengiriman, dengan sistem persentase, sehingga petani ikan akan lebih terbantu.

Harga ikan hias, tidak sama dengan ikan konsumsi yang perbulan atau perhari dapat ditetapkan harganya. Bisa dikatakan, harga ikan hias tidak harga pasti. Sementara pasar ikan hias dipercayanya, bisa menciptakan peluang devisa baru bagi Negara. “Ironis memang, dunia sudah modern, tetapi system petani ikan belum modern,” tandasnya.

Potensi ikan hias di Kota Bekasi cukup besar, dengan jumlah petani bisa mencapai sekira 700 Kepala Keluarga (KK). Yang tergabung di PPIB saat ini sekira 200 KK. Ikan hias handalan Bekasi, banyak dikembangkan dikalangan petani. Cukup banyak jenisnya, seperti ikan diskus, black ghost, cherry barb, plamas dan neon tetra. Semuanya sudah menembus pasar dunia.

Potensi tersebut, juga didukung potensi pakan ikan. Bekasi diuntungkan dengan kondisi geografis, sehingga Sumber Daya Alam untuk pakan ikan cukup melimpah seperti pakan anak ikan atau larva, kutu air dan cacing sutra. Di Kali Bekasi, pakan tersebut cukup melimpah. Banyak permintaan dari wilayah luar Bekasi yang datang, seperti meminta cacing sutra untuk pakan. Potensi ikan hias cukup menjanjikan. Bicara dari potensi Bekasi, di Jawa Barat tiga tahun lalu, menjadi penyumbang terbesar untuk Jawa Barat. Secara nasional, Jabar berada di nomor dua setelah Jawa Timur.

Kepala UPTD Promosi Ikan Hias, Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi, Wiratma P,- Foto M Amin

Kepala UPTD Promosi Ikan Hias, Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi, Wiratma P, menyebut, pasas ikan hias terbesar di Kota Bekasi adalah untuk ekspor. Namun, beberapa tahun belakangan terkendala aturan dari Kementerian Kelautan, terkait larangan budi daya dan ekspor ikan berbahaya seperti alligator. “Potensi ekspor Ikan hias tidak kolep, tetapi sedikit terganggu dengan aturan tersebut. Saat ini sesuai data 2018, terbesar ikan yang dieksport adalah ikan diskus dan blackghost,” ujarnya.

Menanggapi adanya sentra pasar khusus bagi petani langsung ekspor, Wiratma menyebut, hal itu tidak bisa dilaksanakan. Aturan ekspor tidak sembarangan. Harus lolos karantina, karantina harus punya sertifikat ACBC, cara ikan yang baik dan benar yang punya kewenangan.

“Regulasi, dari petani langsung ekspor tidak akan bisa, ekspor tidak semudah itu, harus lolos karantina dulu, petani tidak bisa langsung jual untuk ekspor. Untuk bisa masuk Karantina perlu sertifikasi, harus ada kerjasama dengan pihak yang sudah disertifikasi,” tegas Wiratma.

Mekanisme sebelum di eksport harus melalui beberapa tahapan, seperti menghimpun pedagang, menghimpun langsung dari petani. Kemudian dilakukan seleksi kualitas untuk masuk ekspor. Sisanya dipasarkan di lokal, artinya bukan karena terlalu banyak tahapan. Namun, memang harus melalui tahapan tersebut. Solusinya, dapat dilakukan kerjasama dengan mereka yang sudah memiliki sertifikasi.

“Jangan kan keluar negeri, karena ke luar pulau pun harus di karantina. Jadi dari petani tidak akan langsung bisa sendiri. Istilah dropserver, karena Dia sudah memiliki sertifikasi untuk lolos di karantina,” tutupnya.

Lihat juga...