Putri Cendana Disambut Meriah di Pesantren Al-Mubarak

Editor: Mahadeva

1.378

SERANG – Dua puteri Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto, mengunjungi Pondok Pesantren Al-Mubarak, Cimuncang, Sumur Pecung, Serang, Banten, Kamis (14/2/2019).

Kunjungan tersebut, bagian dari rangkaian kegiatan putri sulung Jenderal Besar HM Soeharto tersebut, selama di Banten. Dalam kunjungan kali ini, rombongan Tutut Soeharto dan Mamiek Soeharto, disambut langsung pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mubarak, Kyai Mahmudi, tokoh agama dan tokoh adat setempat. Dalam kesempatan tersebut, Tutut Soeharto dikalungi bunga oleh istri Kyai Mahmudi.

Di tengah rintik hujan, musik marawis dan rampak bedug, mewarnai kehadiran kedua putri Cendana. Para santri dan para purnawirawan TNI/Polri, yang tergabung dalam Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR), turut menyambut kedatangan Tutut Soeharto dan Mamiek Soeharto.

Pemilik Pondok Pesantren Al-Mubarok, Kyai Mahmudi memberikan sambutan pada kunjungan Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto ke Pondok Pesantren Al-Mubarok, Cimuncang, Sumur Pecung, Serang, Banten, Kamis (14/2/2019). Foto: istimewa / Foto Sri Sugiarti

Kyai Mahmudi mengaku bersyukur, Tutut Soeharto mau bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Mubarak. Dia mengaku sudah cukup lama tidak bertemu dengan putri sulung Presiden Soeharto tersebut. “Alhamdulillah saya dan masyarakat Banten, hari ini bisa bertemu dengan Ibu Tutut,” kata Kyai Mahmudi.

Kyai Mahmudi di 1992 hingga 1997, aktif sebagai kader partai keluarga Cendana. Saat itu, setiap kali Tutut Soeharto berkunjung ke Banten, seperti Pandeglang, Serang dan Tanggerang, Dirinya selalu hadir.  “Saya ini dulu aktif sebagai kader Ibu Tutut. Tiap Ibu berkunjung ke Provinsi Banten, saya selalu hadir dan bersalaman dengan Ibu Tutut,” ujarnya.

Kyai Mahmudi menyebut, masyarakat Banten khususnya, dan Indonesia pada umumnya, sangat menyayangi Tutut Soeharto. Hal itu dikarenakan, masyarakat sangat mengingat jasa-jasa Pak Harto, yang sangat banyak selama memimpin Indonesia.  Di bidang pendidikan, Pak Harto banyak membantu siswa-siswi, santri, hingga mahasiswa.

Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto dan Danty Rukmana berfoto dengan santri Pondok Pesantren Al-Mubarok, Serang, Banten, Kamis (14/2/2019). Foto; Sri Sugiarti.

Hal itu terlihat dengan pendirian sejumlah yayasan, yang khusus untuk memberi beasiswa kepada keluarga kurang mampu. Salah satunya adalah Yayasan Darmais. “Saya dulu sebulan sekali mengambil bantuan dari Bina Graha dan Cendana melalui Yayasan Darmais, Bu. Tapi setelah Pak Harto berhenti, yayasan pendidikan Islam pada gulung tikar semua,” tutur Kyai Mahmudi lebih lanjut.

Diharapkannya, pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April mendatang, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dapat lebih memberikan perhatian terhadap dunia pesantren. “Sehingga ke depan akan lahir ulama-ulama dari pesantren sebagai pelanjut risalah,” ujarnya.

Tokoh agama dari Banten, Kyai Nasmudin bin Haji Busro, mengatakan, dirinya sangat menganggumi Pak Harto. Sosok presiden kedua Indonesia tersebut, dinilainya sangat perhatian kepada umat muslim. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya masjid yang dibangun oleh Pak Harto. “Saya sangat kagum dengan Pak Harto. Saya ingat Pak Harto, banyak membangun masjid ketika di 1990, bahkan sampai ke Irian. Sehingga di Irian banyak masyarakat yang masuk Islam. Ini atas jasa Pak Harto,” kata Kyai Nasmudin.

Kyai Nasmudin mengaku sangat prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Banyak mengalami perseteruan, karena hal-hal yang bukan prinsip. Menurutnya, hal tersebut menjadi penyebab melemahnya ideologi Pancasila di negara ini. Pancasila hanya dijadikan simbol dan pengakuan, tapi sedikit realisasi dalam kehidupan. “Tahun 1980 saya tidak setuju dengan Asas Tunggal. Tapi sekarang baru kepikiran sama saya, ideologi Pancasila sangat penting dalam membangun bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Pak Harto disebutnya, sukses memberangus Partai Komunis Indonesia (PKI) di 1965. Pemberangusannya sampai ke akar-akar gerakan. “Bisa dibayangkan kalau saat itu, Pak Harto tidak mengambil tindakan tegas. Apa jadinya Indonesia. Mungkin Indonesia akan jadi PKI semua,” tukasnya.

Dalam doanya, Kyai Nasmudin memohon agar semua jasa-jasa Pak Harto saat membangun negara ini dicatat amal baiknya oleh Allah SWT. Diberikan ganjaran terbaik, dan ditempatkan di surganya Allah SWT.  “Saya berharap bangsa Indonesia dapat  mengambil pelajaran terbaik dari kepemimpinan Pak Harto,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...