Ratusan Siswa SD Semarakan Festival Nyurat Aksara Bali

Editor: Mahadeva

289

GIANYAR – Sebanyak 296 siswa Sekolah Dasar  di kabupaten Gianyar mengikuti Festival Nyurat Aksara Bali. Festival digelar di Balai Budaya Gianyar, dalam rangka Bulan Bahasa Bali dan diprakarsai Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar.

Dalam lomba tersebut, setiap peserta diwajibkan nyurat aksara Bali di atas kertas. Mereka menyalin sebuah cerita yang telah diberikan oleh panitia, dalam waktu 60 menit atau satu jam. Juri lomba tersebut, berasal dari unsur Widya Sabha Dharma Gita Kabupaten Gianyar, dibantu para Penyuluh Bahasa Bali. Proses penilaian dengan melihat bentuk dan komposisi tulisan, ketepatan ejaan (pasang aksara), kerapian dan kebersihan tulisan, serta ketepatan waktu yang disediakan.

Plt. Kadis Kebudayaan Gianyar, Drs. I Made Suradnya, menyebut, Festival Nyurat Aksara Bali merupakan salah satu implementasi Peraturan Gubernur Bali No.80/2018, tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara Bali.

Ada beberapa implementasi peraturan tersebut, seperti penggunaan Bahasa Bali dalam setiap kegiatan pemerintahan di hari Kamis. Kemudian, penggunaan aksara Bali pada papan nama instansi. Selain Festival Nyurat Aksara Bali, juga akan digelar lomba lain seperti Lomba mesatua Bali, membaca puisi berbahasa Bali dan lomba Dharma Wacana. “Jadi setiap Februari, di Bali merupakan Bulan Bahasa Bali. Kami akan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan upaya pelestarian seni, adat istiadat dan budaya Bali,” kata Made Suradnya Kamis, (21/2/2019).

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gede Mayun, menegaskan, Festival Nyurat Aksara Bali, diharapkan mampu membawa dampak positif bagi anak-anak Kabupaten Gianyar. Saat ini, seperti diketahui, Bahasa Bali mulai dianaktirikan di daerahnya sendiri. Bahasa Inggris dianggap menjadi sebuah kewajiban, untuk menentukan masa depan.

“Saya harap lewat nyurat aksara Bali, anak-anak lebih mencintai bahasa dan sastra daerahnya sendiri, dan untuk orang tua, agar mulai membiasakan diri menggunakan Bahasa Bali sebagai Bahasa percakapan sehari-hari di rumah,” harap A.A Gede Mayun.

Wabup menegaskan, aksara Bali merupakan salah satu seni sastra warisan leluhur, yang memiliki nilai filosofis tinggi. Jika diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan, sastra merupakan akar dari tanaman, pohonnya (batang) merupakan Desa Pakraman, sementara bunga maupun buahnya merupakan seni dan budaya. Sedangkan roh yang menghidupkan tanaman tersebut tiada lain adalah Agama Hindu. “Hal inilah yang harus mulai ditanamkan pada anak-anak sejak dini,” pungkas Wabub.

Lihat juga...