Relawan Ajari Siswa Terdampak Tsunami Warnai Kaos Teknik Celup

Editor: Koko Triarko

369

LAMPUNG – Sebanyak 136 lebih anak anak usia sekolah di Dusun Pangkul, Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa, terlihat ceria bersama sejumlah relawan saat mewarnai kaos dan baju.

Kegiatan mewarnai kaos dengan teknik ikat celup (tie dye), menjadi salah satu kegiatan anak-anak yang mayoritas merupakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Swasta Darussalam Sukaraja. Ratusan siswa tersebut melakukan aktivitas bersama dengan komunitas Sudut Bumi, serta sejumlah relawan (volunteer).

Niki Suryawan, relawan dari Sudut Bumi Bandung -Foto: Henk Widi

Niki Suryawan, relawan dari komunitas Sudut Bumi Bandung, menyebut kehadiran relawan tersebut merupakan bagian dari kegiatan berbagi, meringankan beban anak-anak korban tsunami.

Kedatangan relawan merupakan ke sekian kali ke lokasi terdampak tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018. Sebagai komunitas yang peduli akan literasi, pendidikan alternatif ia bersama relawan peduli literasi lain melakukan kegiatan pemulihan pascatsunami.

Komunitas Sudut Bumi, sebut Niki Suryawan, melibatkan Sugeng Haryono selaku pegiat literasi Motor Pustaka, serta sejumlah simpul komunitas seni tie dye dan komunitas seni. Semua relawan dan komunitas tersebut memiliki visi yang sama untuk membangkitkan semangat anak-anak usia sekolah, untuk kembali bersemangat belajar.

Kegiatan digelar bersama anak-anak usia sekolah di desa Sukaraja, yang merupakan siswa MI Swasta Darussalam yang hancur akibat terjangan tsunami.

“Kedatangan sejumlah relawan merupakan kegiatan yang ke sekian kalinya ke lokasi bencana tsunami, kali ini bersama dengan relawan kami membawa perlengkapan mewarnai, menyanyi serta mewarnai kaos dengan teknik ikat celup,” terang Niki Suryawan, Sabtu (23/2/2019) petang.

Sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh relawan dan sejumlah anak di Desa Sukaraja, dilakukan di sekitar rumah pohon pustaka yang merupakan hasil donasi dari sejumlah pihak untuk meningkatkan kegiatan literasi.

Anak-anak yang dilibatkan merupakan korban tsunami yang tinggal di hunian sementara (huntara), serta sebagian masih tinggal di rumah kerabat akibat belum memiliki tempat tinggal.

Niki Suryawan menyebut, sebagai komunitas yang peduli pada kegiatan pendidikan alternatif, bersama sejumlah relawan mengggunakan waktu di luar jam belajar siswa.

Bersama relawan, anak-anak diajak melakukan kegiatan menggambar, mewarnai, menyanyi, mewarnai kaos serta baju dengan teknik tie dye, menonton film dengan tema motivasi serta makan bubur kacang hijau bersama. Para peserta yang diberi pelatihan teknik mewarnai kaos juga didampingi oleh pihak sekolah.

“Kegiatan para relawan dari sejumlah komunitas memiliki tujuan trauma healing, membangkitkan semangat anak untuk kembali bersekolah,” beber Niki Suryawan.

Cepnuh, Kepala MI Swasta Darussalam Sukaraja, sangat berterima kasih kepada sejumlah relawan. Ia mengaku, sebanyak 136 siswa yang ada di sekolahnya sebagian memiliki orang tua yang rumahnya terkena tsunami.

Selain rumah yang terkena tsunami, sekolah tempat belajar yang digunakan masih mengalami kerusakan. Kegiatan yang dilakukan saat akhir pekan tanpa mengganggu kegiatan belajar, sekaligus menyenangkan bagi anak-anak.

“Selama ini, siswa MI Darussalam masih belajar di tenda darurat, lalu pindah di rumah warga, kehadiran relawan yang masih tetap peduli pada siswa, sangat membantu,” papar Cepnuh.

Selain siswa dari MI Swasta Darussalam, ratusan anak-anak yang dilibatkan sebagian merupakan siswa usia sekolah dasar terdampak tsunami di wilayah tersebut.

Kegiatan itu diharapkan bisa meringankan beban bagi anak-anak. Sebab, sejumlah relawan sebelumnya telah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, seperti peralatan sekolah serta bantuan dalam bentuk lain. Khusus untuk memulihkan kegiatan belajar mengajar, bantuan untuk pembangunan ruang kelas baru juga telah dibangun.

Syaifulloh, motivator sekaligus tokoh pemuda Desa Sukaraja, juga mengaku sangat terbantu dengan kehadiran relawan. Sejumlah relawan di antaranya telah membangun hunian sementara (huntara), dalam bidang pendidikan sejumlah relawan juga ikut mendukung kegiatan literasi.

Ia menyebut, relawan dari pegiat literasi dan dari sejumlah mahasiswa universitas, di antaranya  membuat rumah pohon pustaka. Selanjutnya rumah pohon pustaka akan dibuat menjadi taman sekaligus lokasi bermain.

Rianti, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darussalam Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

“Fasilitas taman akan dilengkapi dan buku-buku untuk belajar bagi anak-anak juga sudah disiapkan, sehingga ke depan anak-anak bisa mendapatkan ilmu, termasuk diberi ilmu mewarnai kaos,” beber Syaifulloh.

Sementara itu, rumah pohon pustaka yang dibangun di dekat lokasi huntara, sebut Syaifulloh, akan menjadi tempat representatif bagi anak-anak korban tsunami. Anak-anak usia sekolah yang selama hampir dua bulan belum bersekolah akibat sekolahnya rusak, memiliki tempat alternatif untuk belajar.

Ia mengaku, ide serta gagasan dari sejumlah relawan termasuk pelatihan akan memberi harapan bagi anak-anak dan warga korban tsunami, untuk menjalani kehidupan sehari-hari seperti kondisi normal.

Rianti, salah satu siswa kelas 3 MI Swasta Darussalam, mengaku senang bisa ikut belajar mewarnai kaos. Ia juga mengikuti kegiatan menggambar, menyanyi bersama rekan-rekannya serta sejumlah relawan.

Hal baru yang diperoleh berupa mewarnai kaos dengan teknik tie dye yang juga diikuti oleh sang ibu. Ilmu baru tersebut menjadi sebuah pengetahuan yang tidak diperolehnya selama berada di sekolah. Kaos yang kondisinya sudah jelek dan diberi warna selanjutnya menjadi kaos seperti kondisi baru.

Baca Juga
Lihat juga...