Ribuan Masyarakat Saksikan Cap Go Meh di Kota Tua Padang

Editor: Satmoko Budi Santoso

315

PADANG – Usai salat Asar berkumandang, kawasan heritage Kota Tua Padang, Sumatera Barat, dipadati dengan atraksi khas etnis Tionghoa. Nuansa serba merah mendominasi di Kampung Pondok tersebut. Hal itu ternyata masih menjadi bagian dari perayaan tahun baru Imlek ke 2570.

Kegiatan pun resmi dimulai sekitar pukul 17.00 Wib sore tadi. Jembatan Siti Nurbaya menjadi saksi bahwa ribuan masyarakat datang ke lokasi acara.

Ya, hari ini di Padang tengah berlangsung Cap Go Meh bertajuk Padang Multikultural Festival (Pamfest) 2019.Cap Go Meh merupakan salah satu budaya bagi warga Tionghoa, yang melambangkan hari ke 15 dan hari terakhir dari masa perayaan tahun baru Imlek.

Berkaitan dengan kegiatan tersebut, Ketua Penyelenggara Cap Go Meh, Hendri Alizar, mengatakan berbagai pihak terlibat dalam Cap Go Meh tersebut, termasuk adanya dukungan dari pemerintah. Tentunya dengan adanya diselenggarakan Cap Go Meh di Padang, menjadi salah satu pariwisata.

Di Padang, Cap Go Meh pun dilangsungkan di kawasan Kota Tua. Dengan adanya kebudayaan dari Tionghoa ini, membuat kawasan Kota Tua, seakan memiliki nuansa yang begitu kental dengan ala zaman tempo dulu.

Ia menjelaskan dalam acara Cap Go Meh yang bertajuk Padang Multikultural Festival tersebut, selain adanya penampilan atraksi dimeriahkan juga dengan penampilan Devile Naga, Barongsai, Kio, Siapasan, Wushu dan Drum Band dari sekolah sekitar Kampung Pondok.

“Cap Go Meh ini adalah budaya atau tradisi bagi warga Tionghoa. Bahkan Cap Go Meh telah menjadi sebuah tujuan pariwisata di Padang. Karena berbagai etnis Tionghoa di Indonesia ada yang datang ke Padang,” ujarnya, Selasa (19/2/2019).

Menurutnya, Cap Go Meh di era kini tidak hanya menjadi bagian dari warga Tionghoa. Di Padang, masyarakat lainnya sangat senang adanya kegiatan Cap Go Meh. Buktinya kini ada ribuan masyarakat yang menyaksikan kegiatan tersebut.

Kegiatan yang berlangsung hingga azan Magrib berkumandang itu, berlangsung dengan meriah dan tertib. Kondisi ini pun diapresiasi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, karena telah menjadi bagian dari pariwisata di Sumatera Barat.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengatakan, dengan adanya iven Cap Go Meh di Padang, telah menunjukkan bahwa budaya yang ada di Indonesia beragam. Tidak hanya datang dari budaya lokal, tapi budaya lainnya seperti halnya Cap Go Meh, dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno (tengah) bersama Anggota DPR RI (kiri) dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di acara pembukaan Cap Go Meh di Padang yang berlangsung di bawah Jembatan Siti Nurbaya/Foto: M. Noli Hendra

“Kita di Sumatera Barat beragam budayanya. Sebut saja di Kepulauan Mentawai, memiliki budaya yang berbeda pula meski masih menjadi bagian dari Sumatera Barat. Artinya, tradisi dan budaya itu bisa diterima. Persoalan SARA jangan dicampurbaurkan dalam budaya,” ucapnya.

Gubernur menyatakan cukup banyak warga Tionghoa di Padang yang memeluk agama Islam. Artinya di dalam pelaksanaan Cap Go Meh tidak ada yang bertentangan dengan sebuah tradisi atau budaya di Sumatera Barat.

“Soal budaya tidak ada yang dipersoalkan, tapi mari kita dukung bersama-sama kegiatan seperti ini. Karena secara tidak langsung memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” imbaunya.

Menurutnya, hampir setiap tahunnya di momen Cap Go Meh ramai pengunjung yang datang ke pusat kegiatan yakni di Kota Tua Padang. Angka hitungan ribuan tidaklah hitungan yang berlebihan. Karena memang begitu adanya kondisi di lapangan.

Kegiatan ini juga dihadiri berbagai pihak seperti Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Polda Sumatera Barat, Anggota DPR RI asal Sumatera Barat, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia Sumatera Barat, Tokoh Minangkabau, Organisasi Masyarakat, dan sejumlah pihak lainnya yang datang dari Pemerintah Kota Padang.

Baca Juga
Lihat juga...