Rumah Ini Saksi Soeharto Menginap Sebelum SU 1 Maret

Editor: Satmoko Budi Santoso

625

YOGYAKARTA – Meski tampak tua, bangunan rumah milik Joyo Pawiro di Dusun Sangonan, Sidorejo, Godean, Sleman, hingga kini masih terawat cukup baik. Rumah berbentuk limasan itu berdiri di tanah seluas kurang lebih 800 meter.

Terletak di tengah desa, rumah yang sempat digunakan sebagai markas sekaligus tempat persembunyian pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto semasa Agresi Militer Belanda II ini tampak masih terjaga keasliannya.

Menghadap ke arah selatan, sebagaimana rumah tradisional Jawa pada umumnya, kompleks rumah ini terdiri dari dua bagian. Di sisi utara terdapat bangunan utama berupa rumah berbentuk limasan dengan dinding tembok bata.

Sementara tepat di depan bangunan utama terdapat sebuah joglo dengan halaman luas yang ditumbuhi sejumlah pohon kelapa.

Bambang Sugeng, cucu Joyo Pawiro – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Luas bangunan rumah ini sekitar 400 meter. Sebagian besar masih asli. Ada beberapa dinding rumah yang dulunya bambu sekarang sudah diganti tembok. Lantai joglo dulu juga masih semen biasa, tapi sekarang sudah keramik,” ujar Bambang Sugeng, cucu Joyo Pawiro, yang kini mengurus dan menempati rumah tersebut bersama adiknya.

Meski tak banyak dikenal, rumah milik Joyo Pawiro ini memiliki keterkaitan sejarah penting dalam peristiwa Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949.

Di rumah inilah, Pak Harto bersama pasukannya pernah bermarkas sekaligus untuk pertama kali membawa dan memakai Janur Kuning sebagai tanda sebelum menyerang kota Yogyakarta dalam peristiwa “Serangan 6 Jam”.

Dusun Sangonan sendiri memang bukan daerah yang asing bagi Pak Harto. Pasalnya, dusun ini merupakan tempat tinggal sejumlah kerabatnya dari keturunan sang ibu Soekirah. Sedikitnya terdapat 5 orang simbah atau kakek kecil Pak Harto yang menetap di Dusun Sangonan. Salah satunya Joyo Pawiro.

Berdasarkan silsilah yang ada, Joyo Pawiro merupakan anak dari Prawiro Setiko atau juga dikenal dengan nama Noto Sudiro. Noto Sudiro sebagaimana diketahui merupakan kakek buyut Pak Harto. Dari garis Noto Sudirolah kakek Pak Harto, Atmo Sudiro lahir. Kemudian Atmo Sudiro memiliki anak Soekirah yang tak lain adalah ibu Pak Harto.

Cucu Joyo Pawiro lainnya, Basuki – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Pak Harto dan pasukannya memang menginap di rumah Mbah Joyo Pawiro. Tapi di rumah-rumah milik warga dusun lain, juga ada pasukan yang menginap. Meski beda laskar. Termasuk rumah bapak saya. Bahkan ada beberapa rumah yang sempat dibakar oleh Belanda,” ujar cucu Joyo Pawiro lainnya, Basuki.

Meski tak dibangun monumen atau tetenger apa pun sebagai pengingat sejarah, namun hingga saat ini rumah Joyo Pawiro ini masih sering digunakan sebagai tempat napak tilas peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Rumah ini secara status juga masih milik keluarga ahli waris Joyo Pawiro.

“Meski tidak ada tetenger atau monunen, namun kita tetap berkomitmen untuk menjaga rumah bersejarah ini,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...