Sampah Sungai Muara Bakau, Sumbang Kerusakan Persawahan Petani Bakauheni

Editor: Satmoko Budi Santoso

244

LAMPUNG – Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya yang rendah disayangkan warga Muara Bakau, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni.

Pasalnya sejumlah masyarakat dari wilayah setempat kerap membuang sampah di sepanjang Jalan Lintas Timur (Jalintim) selanjutnya terbawa arus ke sungai Muara Bakau.

Nurhayati, warga sekaligus petani di Muara Bakau menyebut, sampah yang dibuang ke jalan dan sungai didominasi oleh sampah rumah tangga.

Sejumlah sampah dari pasar Bakauheni serta pemilik warung juga dibuang di wilayah tersebut. Imbas paling terasa diakui Nurhayati, sebagai warga setempat aroma busuk sampah serta kesan kumuh terlihat saat melintas di sepanjang Jalinsum.

Sebagian besar sampah yang sudah terbuang ke sungai Muara Bakau bahkan mengakibatkan sungai meluap. Luapan sungai tersebut membuat area sawah dengan tanaman padi berusia dua bulan tertimbun material sampah bercampur pasir.

“Sampah yang dibuang tidak saja mengganggu pemandangan, namun yang sangat terasa dampaknya adalah petani penggarap lahan sawah di dekat aliran sungai ikut tertimbun material sampah,” terang Nurhayati, salah satu petani saat ditemui Cendana News, Rabu (20/2/2019).

Nurhayati menyebut, area persawahan miliknya yang tertimbun material sampah dan lumpur lebih dari empat petak. Selain menimbun area persawahan, sampah disebutnya juga menumpuk di area tepi pantai Muara Bakau yang ditumbuhi tanaman rumbia, berbagai jenis mangrove.

Akibat sampah yang terbawa arus sungai, berimbas pendangkalan atau sedimentasi. Sungai Muara Bakau disebut Nurhayati sebelumnya bisa dimanfaatkan nelayan penangkap ikan untuk menyandarkan perahu, namun akibat pendangkalan, perahu hanya ditambatkan di Muara.

Berbagai larangan dan imbauan agar tidak membuang sampah sembarangan yang dipasang menurut Nurhayati tidak diindahkan masyarakat. Sebagian sampah yang dibuang bahkan mengakibatkan sungai dan sejumlah rawa-rawa yang kerap dimanfaatkan warga untuk mencari ikan ikut tercemar.

Kawasan Muara Bakau yang didominasi rawa, habitat mangrove, pandan air, rumbia menjadi ekosistem bagi ikan, serta pepohonan mangrove menjadi tempat hidup burung bangau dan burung liar lain.

Suroto, salah satu pekerja di Bandar Bakau Jaya,pelabuhan penyeberangan yang mempertahankan tanaman penghijauan berupa cemara udang serta berbagai jenis mangrove – Foto: Henk Widi

Suroto, salah satu pekerja di pelabuhan Bandar Bakau Jaya, menyebut, sebagian kawasan tersebut telah dihijaukan. Beberapa area bahkan telah dipergunakan sebagai embung untuk memelihara ikan, resapan air, sekaligus lokasi mempertahankan mangrove.

Aliran sungai yang mengalir di dekat kawasan tersebut di antaranya sungai Siring Itik dan sungai Muara Bakau semula merupakan sungai yang jernih. Namun akibat aktivitas masyarakat yang membuang sampah sembarangan berimbas sungai menjadi dangkal.

“Setiap datang musim hujan sungai dipenuhi oleh sampah dari bagian hulu yang merupakan kawasan padat penduduk,” beber Suroto.

Suroto bahkan mengaku, kerap membersihkan sampah yang kerap menyumbat di saluran air dan terhubung ke sungai. Selain itu upaya menjaga lingkungan di kawasan pelabuhan telah dilakukan dengan menanam jenis tanaman cemara udang, ketapang kencana serta beberapa jenis pandan dipertahankan.

Pada kawasan embung yang selalu terisi air, ribuan benih ikan sengaja ditebar untuk menjaga kawasan tersebut sebagai ekosistem alami. Saat ikan sudah besar lokasi embung kerap dimanfaatkan sebagai lokasi pemancingan bagi warga.

Ekosistem mangrove yang dipertahankan di wilayah Muara Bakau – Foto: Henk Widi

Sodikin, salah satu pemancing di sekitar embung menyebut, kawasan mangrove dan rumbia menjadi habitat ikan Mujahir dan ikan gabus. Kawasan tersebut diakuinya masih didominasi oleh perairan tawar sehingga kerap menjadi habitat bagi sejumlah ikan tawar.

Setiap hari ia menyebut, memanfaatkan waktu untuk mencari ikan di sejumlah embung dan sungai Muara Bakau. Meski kondisi sungai sebelumnya bersih, namun usai musim penghujan volume sampah di sungai tersebut kerap bertambah dan membuat sungai menjadi kotor.

Keberadaan mangrove sebagai lokasi habitat udang dan kepiting juga menjadi tempat baginya untuk memasang perangkap. Kawasan mangrove yang masih berada di wilayah sepadan pantai Muara Bakau diakuinya sekaligus sebagai lokasi untuk menambatkan perahu.

Habitat alam yang terjaga di kawasan tersebut menurut Sodikin, akan tetap terjaga kelestariannya meski warga pemilik lahan sawah harus rajin membersihkan sampah dengan cara membakar agar sampah tidak menumpuk di sekitar sungai Muara Bakau.

Lihat juga...