Sejumlah Wilayah di Indonesia Menunjukkan Tanda Musim Kemarau Awal

Editor: Satmoko Budi Santoso

492

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan beberapa wilayah Indonesia sudah menunjukkan pertanda kemarau awal.

Pantauan Sistem Peringatan Dini Iklim BMKG (climate early warning system, CEWS) terhadap curah hujan dasarian I bulan Februari (1 – 10 Feb 2019) menunjukkan curah hujan kategori rendah, yaitu kurang dari 50 mm per dasarian.

Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, M.Sc menyatakan, kondisi ini dominan di sebagian besar Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Riau, sebagian Kalimantan Utara dan Timur, Gorontalo dan sebagian Sulawesi Tengah.

“Peta analisis hari tanpa hujan berurutan di wilayah Sumatera, menunjukkan beberapa tempat di pesisir timur Aceh, Sumatera Utara dan Riau terindikasi mengalami hari kering berurutan 6–20 hari. Kondisi ini termasuk kategori pendek dan menengah. Di Riau, hari tanpa hujan kategori panjang yaitu 21 hingga 30 hari, telah terjadi di Rangsang, Rangsang Pesisir dan daerah Tebing Tinggi,” kata Siswanto usai Rapat Prakiraan Musim, Kamis (21/2/2019).

Siswanto menjelaskan, kondisi kurang hujan di wilayah-wilayah tersebut didukung oleh kondisi troposfer bagian tengah yang didominasi kelembaban udara yang relatif rendah berdasarkan peta prediksi spasial anomali radiasi balik matahari gelombang panjang (OLR).

“Selama dasarian II Februari 2019, wilayah subsidi atau kering mendominasi wilayah Indonesia hingga awal dasarian III Februari 2019 yang berkaitan dengan penjalaran MJO fase kering. Hal ini menyebabkan proses konvektif dan pembentukan awan hujan akan terhambat,” ujar Siswanto.

Kondisi ini menjelaskan kemarau pertama di pesisir timur Sumatera tengah berlangsung teramplifikasi oleh fenomena antar musiman MJO kering dan dimungkinkan dapat berdampak kepada sektor pertanian, kehutanan dan lingkungan di daerah-daerah tersebut.

“Pengaruh kemarau pertama itu berdampak pada peningkatan jumlah titik api (hotspot) pada dua pekan terakhir ini di beberapa wilayah. Sebagaimana terpantau oleh Satelit Terra/Aqua (LAPAN/BMKG), yaitu yang cukup signifikan di Riau (80 titik dari 24 titik pada pekan sebelumnya) dan Kalimantan Timur (7 titik),” papar Siswanto.

Stasiun Klimatologi Tambang, Riau melaporkan, kondisi curah hujan bawah normal klimatologis di wilayah pesisir timur telah berlangsung sejak awal Februari 2019.

“Kondisi kering itu diikuti oleh kemunculan hotspot yang memicu kejadian kebakaran hutan dan lahan yang pada akhirnya menimbulkan asap dan penurunan kualitas udara,” ucap Siswanto.

Penurunan kualitas udara di Riau terdeteksi dari pantauan alat kualitas udara milik KLHK yang menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara berdasarkan konsentrasi Particulate Matter (PM10) tertinggi di Kabupaten Rokan Hilir sebesar 139. Angka ini masuk dalam kategori tidak sehat.

“Jadi kami mengimbau pada Pemerintah Daerah, instansi terkait, dan masyarakat luas pada umumnya di wilayah terdampak untuk terus waspada dan siap siaga terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan, bahaya polusi udara dan asap, potensi kekeringan lahan dan kekurangan air bersih. Serta terus mengikuti update informasi dari BMKG,” pungkas Siswanto.

Baca Juga
Lihat juga...