Seleksi P3K di Kalteng Diikuti Guru Honorer Baru Melahirkan

194
Ilustrasi - Dok. BKN

KUALA KURUN — Guru honorer, Mariana (34) yang baru melahirkan langsung mengikuti ujian Pengadaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) 2019 berbasis Computer Assisted Test UNBK di SMAN 1 Kurun, Kalimantan Tengah, Sabtu.

“Awalnya perkiraan dokter, saya melahirkan pada 24 Februari 2019. Ternyata, Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB saya sudah merasakan tanda-tanda persalinan, sehingga harus ke RSUD Kuala Kurun. Hari ini, sekitar pukul 03.00 WIB, lahir bayi perempuan saya,” ucap Mariana di Kuala Kurun, Sabtu.

Mariana selama ini mengajar di SDN Tumbang Kajuei Datah, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Keinginan ibu tiga anak ini sangat kuat untuk mengikuti seleksi P3K, sehingga dia tetap mengikuti ujian walau baru saja melahirkan.

Dia pun sampai harus diantar oleh petugas kesehatan RSUD Kuala Kurun ke lokasi ujian, dengan infus yang masih terpasang di tangan.

Usai mengerjakan seluruh rangkaian tes yang terdiri dari kompetensi manajerial, sosio kultural, teknis, dan wawancara berbasis komputer, Mariana kembali ke RSUD untuk memulihkan kondisi. Disana, dia ditemani suami yakni Wandri (36) dan keluarga lainnya, sembari memikirkan nama untuk bayi mereka.

“Sejak 2005 lalu saya sudah menjadi guru honor. Kalau mau ikut tes CPNS, sebentar lagi usia saya sudah mencapai 35 tahun, sehingga peluang juga semakin kecil. Jadi saya sangat berharap dapat lulus tes P3K. Semoga ada kebijakan dari pemerintah,” harap Mariana.

Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Gunung Mas, Lurand mengatakan bahwa untuk ujian P3K Gunung Mas 2019, ada 59 peserta dengan rincian 44 tenaga guru dan 15 tenaga pertanian.

Pengumuman kelulusan akan dilakukan dalam waktu dekat, oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Bagi peserta yang nantinya tidak lulus, diminta tidak berkecil hati, karena kesempatan untuk mengikuti seleksi P3K masih terbuka.

“Yang perlu diingat, seleksi ini dapat diikuti bahkan hingga satu tahun menjelang pensiun. Misalnya guru, pensiun pada usia 60 tahun, berarti pada usia 59 tahun masih bisa ikut. Seleksi kali ini merupakan gelombang pertama, untuk gelombang kedua kita masih menunggu jadwal dari pusat,” demikian Lurand. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...