Semedo Manise, Angkat Ekonomi Petani Gula Kelapa di Banyumas

Editor: Satmoko Budi Santoso

532

BANYUMAS – Nasib petani gula kelapa di Kabupaten Banyumas sudah puluhan tahun jauh dari kata sejahtera. Namun, sejak enam tahun terakhir, perlahan ekonomi para petani mulai terangkat. Semua itu berkat Semedo Manise, produk olahan gula kelapa yang berhasil menembus pasar ekspor.

Semedo diambil dari nama Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Desa tersebut terletak di pelosok ujung barat Kabupaten Banyumas. Jalan menuju desa tersebut menanjak dan dipenuhi dengan jalan menikung tajam, serta kanan-kiri jurang. Adalah Mohamad Sobirin, pemuda desa setempat yang mulai merintis usaha gula kristal.

Sobirin merupakan satu-satunya pemuda dari Desa Semedo yang kebetulan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah. Dibesarkan di lingkungan penderes, yang kerap mengalami kecelakaan kerja saat memanjat pohon kelapa dan hanya menikmati hasil yang tak seberapa, membuat Sobirin merasa sangat prihatin. Apalagi kakaknya juga berprofesi sebagai penderes.

Tahun 2012, sudah mulai ramai perbincangan mengenai gula kristal. Sobirin bertekad, warga Desa Semodo harus beralih dari produksi gula cetak menjadi gula kristal, jika ingin kesejahteraannya meningkat. Tekad tersebut sangat kuat, hingga ia pulang ke desa dan langsung mengumpulkan para petani penderes.

ʺKebetulan ayah saya mempekerjakan beberapa petani untuk mengolah nira, karena itu saya awali dengan mengumpulkan mereka. Saya beri pemahaman tentang gula kristal, keuntungan membuat gula kristal, pasar ekspor yang terbuka untuk gula kristal dan lain-lain.

Saya terus mengedukasi para petani dan meluas hingga satu desa, kemudian kita membentuk kelompok tani yang diberi nama Tani Manggar Jaya. Produksi pun dimulai, padahal saat itu, saya juga masih belum ada gambaran tentang pemasaran gula kristal,ʺ cerita Sobirin, Selasa (19/2/2019).

Pekerja sedang menyortir gula kristal untuk menjaga kualitas. Foto: Hermiana E. Effendi

Saat para petani sudah bisa memproduksi gula kristal, Sobirin pun memutar otak bagaimana cara untuk memasarkan produk tersebut, karena ternyata gula kristal belum mendapat pasar di Banyumas. Ia terus mencari informasi, hingga akhirnya bertemu dengan salah satu eksportir gula kristal.

ʺMereka ini yang menampung gula kristal produksi petani, jadi kita mengirim ke gudang eksportir di Kecamatan Wangon. Selanjutnya gula-gula tersebut akan diekspor ke beberapa negara. Order awal kita hanya setengah ton, karena kualitas bagus, maka nilai orderan terus meningkat. Hingga sekarang sudah mencapai 20 ton per bulan,ʺ terang ayah dua anak ini.

Stok gula kristal tersebut dibeli dari para petani. Kemudian diolah kembali, yaitu dengan dikeringkan dan disortir ulang, untuk memastikan kualitas terjaga. Sebab, kepercayaan memenuhi standar ekspor harus dijaga baik-baik. Sekali saja ternodai, maka eksportir tidak akan mau lagi membeli gula kristal dari Semedo.

ʺAlhamdulilah sampai sekarang kita masih bisa menjaga kualitas, kadar kekeringan gula kristal produksi kita, kita eksportir yang terbaik, karena sampai 2 persen, biasanya  pada kisaran 3 persen. Melalui kelompok tani, kita juga terus melakukan pembinaan kepada 135 petani yang bergabung,ʺ kata Sobirin.

Selain memasarkan melalui ekspor, Sobirin juga membuat terobosan dengan menjual gula kristal kemasan secara online. Rasa gula kristal kemasan juga beragam inovasi, mulai dari rasa original, ada yang rasa rempah, kunir dan lain-lain.

Meskipun belum mendapat tempat di daerah sendiri, karena kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi gula sehat masih rendah, namun gula kristal organik yang diberi nama ʼSemedo Maniseʼ ini sudah memberikan masa depan yang manis bagi para petani penderes di Desa Semedo.

 

 

Baca Juga
Lihat juga...