Sendimentasi di Sungai Barito Sangat Cepat

153
Ilustrasi kondisi Sungai Barito /Foto: Dokumentasi CDN.

BANJARMASIN – Proses sendimentasi di alur Sungai Barito, Kalimantan Selatan, cukup cepat. Direktur Utama PT Ambang Barito Nusapersada (Ambapers), Syaipul Adhar, menyebut, kondisinya seperti yangn terjadi di Sungai Kuning di Cina.

Dengan demikian, perlu dilakukan pengerukan secara terus menerus. Berdasarkan Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) yang diajukan Ambapers pada 2019, pengerukan lumpur alur Barito melui pihak ketiga, mencapai empat juta metrik ton per bulan. Jumlah sendimentasi yang harus dikeruk tersebut naik dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Sendimentasinya memang cukup tinggi, bahkan setiap tahun, kita harus memperbaharui Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) dengan menaikkan jumlah lumpur yang dikeruk,” jelasnya, Rabu (13/2/2019).

Pendangkalan itu terjadi, bukan semata-mata terjadi di alur Barito. Tetapi karena kondisi hulu dan hilir Barito, yang juga mengalami sendimentasi yang cukup cepat. Sejak dilakukan pengerukan, dan dilakukan uji coba pada 2009, harus dilakukan kerja ekstra, agar pendangkalan tidak kembali terjadi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. “Setelah dikelola secara profesional oleh PT Ambapers, Alur Barito sudah bisa dilayari selama 24 jam non-stop dengan dua arah,” jelasnya.

Selain menggerakkan kapal keruk untuk mengangkat lumpur, juga dilakukan survei kedalaman dan pasang surut alur. Sesuai komitmen, Ambapers selalu menjaga, agar rata-rata permukaan air terendah berada pada ukuran enam meter LWS (Low Water Surface), sehingga pada posisi tersebut, kapal berukuran besar masih tetap bisa masuk dengan lancar.

Tercatat, dengan kondisi tersebut, KRI Fatahilah 361, yang merupakan kapal berukuran jumbo, bisa masuk ke Trisakti dengan lancar. Ambapers sebagai pengelola tol sungai satu-satunya di Indonesia, berkomitmen mendukung jalur distribusi logistik nasional dan lokal di Kalimantan Selatan.

Di 2008, dilakukan pembuatan alur baru tepat di bibir Sungai Barito sepanjang 15 Kilometer, dan lebar dasar alur 100 Meter. Alur baru tersebut, selain memudahkan kapal masuk, juga mampu menekan biaya bagi pengguna. Alur baru jauh lebih pendek dan lurus, dari pada alur lama yang berkelok dan lebih panjang.

Keberhasilan PT Ambapers dalam mengelola alur, kini menjadi contoh bagi daerah-daerah lain, seperti Palembang, Samarinda, Kapuas, yang juga ingin menerapkan hal yang sama. Daerah-daerah tersebut, ingin mengadopsi bagaimana cara pengelolaan alur secara profesional, tanpa harus mengeluarkan dana dari APBD. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...