Seni Bela Diri Tjimande, Lestari di Lampung Selatan

Editor: Koko Triarko

332

LAMPUNG – Seni bela diri pencak silat, tak hanya lestari di Pulau Jawa saja. Seni asli bangsa Nusantara ini juga masih eksis di Lampung Selatan. Salah satunya, seni bela diri silat Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (Kesti TTKKDH).

Oba Sobari, pemerhati kebudayaan dan seni pencak silat, menyebut, di wilayah Lamsel terdapat puluhan perguruan (peguron) persilatan aliran Tjimande. Setiap desa dan kecamatan, pelatih pencak silat perguruan TTKDH Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, memiliki peguron dengan seni tari dan silat yang memiliki ciri khas.

Menurutnya, peguron memiliki sejumlah murid dari berbagai generasi. Seni pencak silat Ttjimande mulai diminati oleh generasi muda hingga kalangan dewasa, sebagai bentuk kesenian bela diri.

Oba Sobari, pelatih kesenian bela diri pencak silat TTKDH Desa Rawi,Kecamatan Penengahan,Lampung Selatan-Foto Henk Widi

Beberapa padepokan silat tersebut, rutin melakukan latihan sesuai jadwal yang ditentukan, untuk melatih kemampuan dasar sekaligus melatih gerakan seni dengan kekhasan setiap peguron.

“Upaya kami sebagai orang tua memperkenalkan seni budaya pencak silat kepada generasi muda, karena kebudayaan dan seni TTKDH memiliki nilai yang positif, sehingga harus dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya,” terang Oba Sobari, baru baru ini.

Pengenalan kebudayaan dan seni TTKDH, sebut Oba Sobari, dilakukan secara rutin dengan melakukan pengenalan ke wilayah yang belum memiliki peguron. Khusus di wilayah Kecamatan Penengahan, beberapa desa yang sudah memiliki peguron pencak silat aliran Tjimande, cukup banyak. Antara lain, Desa Rawi, Ruang Tengah, Kuripan, Kampung Baru, Way Kalam, Merambung, Kelaten, dan Gayam.

Kegiatan latihan bersama sekaligus menampilkan ciri khas setiap peguron, dilakukan untuk mencari bibit-bibit baru yang ingin menekuni kesenian tersebut. Sebagai kebudayaan dan seni yang sudah berdiri puluhan tahun silam, Oba Sobari menyebut pengenalan kepada generasi muda dilakukan sejak dini.

Ia tidak menampik, aliran olah raga bela diri cukup banyak di Indonesia. Namun kesenian bela diri aliran Tjimande, sekaligus upaya untuk melestarikan pencak silat sebagai warisan leluhur.

“Sebagai masyarakat keturunan Sunda, Banten, yang memiliki kebudayaan dan seni silat Tjimande, kewajiban melestarikan selalu ditanamkan sejak dini,” tegas Oba Sobari.

Menurut Oba Sobari, Tjimande memiliki lima aspek dalam tradisi serta kebudayaan maenpo (pencak silat Sunda). Kelima aspek tersebut, yaitu aspek olah raga, seni budaya tradisi, bela diri, spritual dan pengobatan.

Aspek pengobatan yang kerap dilakukan, di antaranya pengobatan pijat atau urut gaya tjimande untuk pengobatan patah tulang.

Meski tinggal di Lampung Selatan, Oba Sobari bersama pengurus TTKDH yang merupakan keturunan Sunda dan Banten, berkomitmen menjaga nilai-nilai budaya silat Tjimande.

Sebagai bentuk upaya komitmen menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya seni pencak silat, pelatihan kepada generasi muda terus dilakukan.

Ia bahkan mewajibkan anak-anaknya untuk ikut Tjimande sejak dini, termasuk anak putrinya yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar.

Pada peguron yang dilatihnya, Oba Sobari melakukan latihan rutin setiap malam Jumat dan malam Minggu. Latihan rutin tersebut di antaranya kerap dilakukan dengan iringan musik sebagai pengiring variasi gerakan atau jurus yang diajarkan.

Setiap peguron memiliki gerakan seni tari yang berbeda, meski untuk gerakan silat Tjimande sudah ada pakem yang harus selalu diikuti. Variasi gerakan merupakan kreasi pelatih dalam upaya menyajikan seni pencak silat menjadi sebuah pertunjukan yang menarik.

Pencak silat Tjimande, sebut Oba Sobari, kerap menjadi sebuah pertunjukan seni. Pada kegiatan khusus seperti pernikahan, kesenian tersebut kerap dipertunjukkan lengkap dengan perangkat musik pengiring. Sebagai bagian kesenian asal tatar Sunda, pertunjukan silat Tjimande diiringi alat musik berupa gong, kendang, kenong, kecrek, terompet.

Selain musikalisasi yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan sinden atau penyanyi, menjadi variasi untuk menghadirkan kesenian Tjimande lebih menarik.

Amanda Putri Lestari, siswa kelas 8 SMPN 1 Sragi, Kecamatan Sragi salah satu pesilat muda yang ikut bergabung dengan TTKDH atau dikenal silat Tjimande -Foto: Henk Widi

Amanda Putri Lestari, siswa kelas 8 SMPN 1 Sragi, mengaku sudah mengikuti pencak silat Tjimande sejak sekolah dasar. Memiliki keluarga yang menjaga kebudayaan dan seni TTKDH, Amanda menyebut pencak silat memiliki nilai positif bagi dirinya.

Ia mengaku bangga bisa melestarikan kesenian warisan leluhurnya tersebut. Deng mempelajari olah raga bela diri, ia pun sebagai seorang perempuan bisa menjaga diri dengan bekal bela diri yang dimilikinya.

“Saya mendapat dukungan dari orang tua dengan mengatur jadwal latihan, tanpa melupakan kewajiban belajar di sekolah,”papar Amanda Putri Lestari.

Amanda Putri Lestari menyebut, selain melakukan latihan untuk gerakan perseorangan, kesulitan berlatih Tjimande, di antaranya saat melakukan penampilan kelompok.

Penampilan secara kelompok, memperlihatkan gerakan ritmis dan artistik diiringi musik untuk menampilkan gerakan menarik. Sebab, keseragaman gerakan ditampilkan sebagai sebuah kesenian yang bisa dinikmati oleh penonton yang kerap belum mengenal kebudayaan dan seni Tjimande.

Lihat juga...