Sepekan Banjir, Petani Lebung Larangan Dihantui Hama Keong

Editor: Satmoko Budi Santoso

299

LAMPUNG – Sepekan terendam luapan sungai Way Pisang yang banjir akibat tanggul penangkis jebol, puluhan hektare lahan padi sawah belum surut.

Suyoko, warga Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, menyebut, banjir yang terjadi pada Jumat 15 Februari 2019 silam masih menggenang di areal persawahan milik warga Desa Sukamulya, Desa Sukaraja dan Desa Palas Bangunan.

Sejumlah padi usia sepuluh hari setelah tanam (HST) disebut Suyoko sebagian sudah membusuk.

Pasca terendam luapan sungai Way Pisang, Suyoko memastikan. lahan satu hektare miliknya harus ditanam ulang seluas seperempat hektare.

Penanaman terpaksa dilakukan akibat aliran sungai di Lebung Larangan masih meluap ditambah dengan genangan dari sungai Way Pisang yang jebol. Padi varietas Muncul Cilamaya yang tahan genangan disebutnya sebagian masih bisa selamat mulai mendapat serangan hama keong mas.

Suyoko, salah satu petani di Desa Sukaraja melakukan penyemprotan hama keong mas pasca banjir – Foto: Henk Widi

Hama keong mas disebut Suyoko, naik dari aliran sungai Lebung Larangan yang masih tergenang air. Usai banjir, hama keong mas bahkan justru berkembang di sejumlah tanggul sungai dan pematang sawah.

Ia bahkan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli bahan kimia moluskisida untuk memusnahkan hama keong mas. Hama keong mas tersebut, diakuinya, memakan padi muda yang masih terendam banjir.

“Pada musim tanaman rendengan, selain terkena genangan akibat tanggul Way Pisang jebol, luapan sungai Lebung Larangan, petani juga harus menghadapi hama keong mas sehingga harus rutin disemprot,” terang Suyoko, salah satu petani di Desa Sukaraja, saat ditemui Cendana News, Jumat (22/2/2019).

Beberapa petak lahan sawah disebutnya akan diganti dengan bibit tanaman baru karena batang padi sudah membusuk.

Beruntung Suyoko masih memiliki cadangan benih padi dengan usia yang sama pada persemaian yang ada di darat. Penanaman dengan sistem penyulaman mengganti bibit padi yang busuk serta dimangsa hama keong mas akan dilakukan saat air mulai surut.

Meski belum surut, Suyoko menyebut, tanggul yang jebol dan belum diperbaiki membuat petani masih khawatir banjir dan luapan sungai Way Pisang akan melanda kawasan sawah di kecamatan Palas.

Sejumlah lahan sawah yang berada aliran Lebung Larangan disebut Suyoko hingga sepekan terakhir bahkan belum bisa ditanami. Luapan air sungai yang melanda lahan persawahan tersebut membuat petani belum melakukan penanaman.

Selain kesulitan melakukan proses penanaman akibat air masih setinggi lutut orang dewasa, hama keong mas masih dikhawatirkan oleh petani di wilayah tersebut. Suyoko bahkan harus rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli obat kimia jenis moluskisida.

Sugiyanto, salah satu petani di Dusun Muara Badas, Desa Palas Bangunan, menyebut, masih berharap bisa menanam pada lahan sawah miliknya. Lahan sawah yang masih digenangi luapan sungai Way Pisang dan aliran Lebung Larangan disebut Sugiyanto, membuat sawah belum bisa ditanami.

Sugiyanto, salah satu petani di Desa Palas Bangunan menyiapkan bibit untuk ditanam menunggu lahan sawah surut – Foto: Henk Widi

Salah satu risiko yang dihadapi petani di wilayah tersebut, menurut Sugiyanto, benih padi yang sudah disiapkan semakin berumur. Padahal ia menyebut, dalam kondisi normal, bibit padi yang sudah dicabut dari persemaian mulai ditanam pada usia 25 hari.

“Bibit yang seharusnya saya tanam sudah berusia sebulan, namun menunggu lahan sawah surut,” beber Sugiyanto.

Sugiyanto juga menyebut, hama keong mas mulai menghantui petani yang menanam padi di wilayah tersebut. Hama keong mas, disebut Sugiyanto, dimusnahkan dengan cara manual atau diberi obat.

Namun saat turun hujan di bagian hulu, aliran sungai tersebut kerap membawa hama keong mas dari bagian sungai. Hama keong mas yang terbawa arus sungai naik ke lahan sawah dan menyerang tanaman padi.

Cara yang dilakukan untuk mengantisipasi keong mas  dengan penyemprotan menggunakan moluskisida.

Lihat juga...