Shelter Ulak Karang Padang jadi Shelter Hantu

Editor: Mahadeva

276

PADANG – Bangunan shelter di Ulak Karang, Kecamatan Padang Timur, dalam kondisi yang memprihatinkan. Shelter yang dibangun untuk Tempat Evakuasi Sementara (TES), kondisinya jauh dari kata layak sebagai bangunan evakuasi. 

Gedung yang baru selesai dibangun dua tahun lalu tersebut, memiliki ketinggian 14 meter dengan empat lantai. Bangunan tersebut, berada sekira 500 meter dari samudera dan berdiri di kawasan zona merah tsunami.

Dari luar, shelter terlihat berdiri di tepi jalan, sehingga mudah dijangkau masyarakat. Namun, jika dilihat lebih dekat, kondisi shelter sangat memprihatinkan. Pagar-nya telah rusak, listrik tidak menyala, aliran air dalam kondisi mati. Sarana kamar mandi atau WC sudah tidak terlihat lagi bentuknya, serta fasilitasnya hilang entah kemana. Shelter Ulak Karang Padang, di disain menyediakan tempat berlari menuju lantai lima, di sisi samping shelter. Keberadaan tempat tersebut melengkapi tangga, yang menjadi fasilitas evakuasi diri dari tsunami.

Warga yang tinggal di kawasan shelter Ulak Karang Padang, Lismi Hasan – Foto M Noli Hendra

Warga yang tinggal di kawasan shelter, Lismi Hasan, shelter Ulak Karang Padang di siang hari terlihat indah dan berdiri megah. Namun ketika malam hari, bangun shelter mirip bangunan hantu. Suasanya gelap, karena tidak berfungsinya aliran listrik.

“Dulu sempat ada listrik yang berfungsi di shelter ini. Sekarang sudah sudah diputus, kondisinya sudah terjadi sejak dua tahun ini. Hal ini dikarenakan kabel-kabel di shelter itu hilang, begitu juga dengan solar cell, juga telah dicuri. Akibat lainnya, sirine dini tsunami juga tidak berfungsi,” tuturnya, Kamis (14/2/2019).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan shelter Ulak Karang Padang menjadi lokasi maksiat. Menjadi tempat pesta narkoba, dan pub atau bar-nya para LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender). Hal itu benar terjadi, karena seringnya muda-mudi diamankan setelah mendatangi shelter tersebut di malam hari.  Shelter yang berdiri dekat dari kawasan Universitas Bung Hatta Padang tersebut, diakui masyarakat tidak mendapatkan perawatan. Bangunan tersebut, berdiri tanpa ada aparat yang menjaganya.

“Kalau kami sebagai masyarakat, menjaganya seperti itu, melarang muda-mudi naik ke shelter. Selain itu, menghalangi hewan peliharaan yang liar, dan terkadang dijadikan tempat senam sehat bagi para ibu-ibu,” sebutnya.

Masyarakat di kawasan shelter berharap, pemerintah segera memperhatikan keberadaan shelter Ulak Karang Padang. Apalagi, gempa di Padang sering terjadi, dan membuat masyarakat mengkhawatirkan adanya bencana tsunami.  “Jika seandainya gempa berkekuatan kuat yang mengakibatkan potensi tsunami, dan terjadinya di malam hari, bagaimana kami bisa berlari menuju shelter tersebut,” tandasnya.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, Erman Rahman, mengatakan, belum terjaganua shelter, karena belum adanya serah terima dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ke pemerintah daerah.  “Shelter itu belum diserahkan terima kan lagi. Sehingga belum jelas siapa yang akan menjaga dan merawatnya lagi. Nah untuk kondisi ini, BPBD provinsi berencana akan mengambil alih bangunan tersebut, supaya jelas soal perawatannya,” ujarnya.

Untuk melakukan pengambilalihan itu, dalam waktu dekat BPBD akan melakukan rapat bersama BPBD Kota Padang. Hal itu dikarenakan, seharusnya Kota Padang yang memiliki wewenang mengelola. Namun untuk lebih baiknya, dengan kondisi yang demikian BPBD provinsi akan berupaya mengambil alihnya. “Terkait kondisi yang terjadi di shelter itu, sungguh sangat disesalkan. Shelter itu untuk evakuasi tsunami, bukan tempat maksiat,” tegasnya.

Lihat juga...