SO 1 Maret, Belanda Terkecoh Oleh Kesalahan TNI

Editor: Koko Triarko

322
Sejarawan, Julianto Ibrahim, dari Departemen Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM). -Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, selama ini dikenal sebagai salah satu tonggak penting dalam peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Lewat serangan enam jam di Yogyakarta inilah, penjajah Belanda akhirnya dipaksa mengakui kedaulatan dan kemerdekaan RI.

Namun, tak banyak yang tahu jika menjelang detik-detik peristiwa Serangan Umum 1 Maret, ternyata sempat terjadi kesalahan koordinasi antarsejumlah pasukan TNI maupun laskar-laskar pejuang yang hendak menduduki Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota RI, kala itu.

“Sehari sebelum hari H, sebenarnya sudah ada serangan. Tepatnya tanggal 28 Februari. Serangan itu dilakukan Mayor Komarudin, karena salah menentukan tanggal,” kata sejarawan Julianto Ibrahim dari Departemen Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM).

Meski akhirnya menarik mundur pasukan, Mayor Komarudin yang dikenal memiliki semangat tinggi dalam berperang melawan penjajah, sempat melakukan serangan heroik kepada pos-pos Belanda di kawasan Alun-alun Utara Yogyakarta. Hal itu dilakukan tepat saat bunyi sirine tanda berakhirnya jam malam berbunyi pada pukul 06.00 pagi, 28 Februari 1949.

“Tak hanya itu, pada sore harinya, juga ada serangan dari sekelompok laskar pejuang. Serangan terjadi jam enam sore. Dilakukan oleh laskar pejuang di kawasan Giwangan,” ujar Julianto.

Menurut Julianto, adanya serangan ini juga terjadi akibat kesalahan menentukan tanggal dan waktu serangan, oleh sejumlah pasukan pejuang. Sebab, orang Jawa kala itu biasa menghitung berakhirnya hari, pada saat sore hari. Sehingga mereka mengira tanggal 28 Februari adalah pukul enam sore merupakan waktu dilakukannya serangan.

“Menariknya, sejumlah kesalahan ini tidak membuat Serangan Umum 1 Maret, gagal. Sebaliknya, justru mengecoh Belanda,” katanya.

Menurut Julianto, Belanda sebenarnya sudah mendengar kabar atau desas-desus akan ada serangan frontal dari kalangan pejuang Indonesia. Namun, Belanda mengira serangan frontal yang akan dilakukan para pejuang itu, hanya merupakan serangan-serangan kecil seperti yang telah dilakukan Mayor Komarudin maupun laskar di Giwangan tersebut.

“Sehingga saat hari H (Serangan Umum 1 Maret) terjadi, mereka (Belanda) tidak siap,” ujarnya.

Menurut catatan sejarah, peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan serangan pertama kali yang dilakukan pasukan TNI dan pejuang secara besar-besaran pada siang hari, selama masa Agresi Militer II Belanda.

Sebab, sebelum itu, serangan-serangan secara sembunyi-sembunyi atau gerilya sudah banyak dilakukan pasukan TNI dan pejuang pada malam hari.

“Sedikitnya ada empat kali serangan cukup besar pada malam hari sebelum 1 Maret. Antara lain tanggal 29 Desember, 7 Januari, 16 Januari dan 4 Februari. Namun, serangan ini merupakan serangan sporadis yang dilakukan pasukan Sub Wehrkreis-Sub Wehrkreise yang dibentuk Soeharto. Serangan ini dilakukan menyerang pos-pos Belanda di sejumlah wilayah Yogyakarta,” katanya.

Lihat juga...