Soeharto Bangun Karakter Masyarakat untuk Bekerja Keras

Editor: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Keteladanan sikap dari kepemimpinan Presiden Kedua RI, Soeharto, ternyata masih melekat pada masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah Perwira Seksi Perlawanan Wilayah Korem 071/Wijayakusuma, Mayor Amir Maʼruf yang mengaku sangat terkesan dengan sosok Soeharto.

ʺSaya memang belum pernah bertemu secara fisik, tetapi pemikiran dan karakter Pak Harto saya memahami dari buku-buku yang saya baca. Ada puluhan buku tentang Jenderal Soeharto yang saya koleksi,ʺ cerita Mayor Amir, Jumat (1/2/2019).

Ada satu cerita menarik yang sangat berkesan bagi sang mayor. Yaitu saat Pak Harto bertemu dalam ajang Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa (Kelompencapir). Kegiatan pertemuan masyarakat desa yang dicetuskan pada masa kepemimpinan Soeharto.

Saat itu ada seorang anak, siswa SMP yang sangat ingin berbicara di hadapan Pak Harto. Anak tersebut dari kalangan tidak mampu, setelah mengangkat tangan dan diberi kesempatan untuk berbicara, si anak pun bercerita.

Setiap hari ia harus berjalan kaki sepanjang 7 kilometer untuk pergi ke sekolah. Sehingga dalam satu hari, ia berjalan kaki sampai 14 kilometer, pulang-pergi dari rumah ke sekolah. Di hadapan orang-orang, ia meminta sepeda kepada Pak Harto, untuk lebih mempercepat perjalanan ke sekolah.

Namun, jawaban Pak Harto sungguh di luar dugaan. Jenderal bintang lima tersebut mengatakan, bahwa jika menginginkan sesuatu, maka harus berusaha dan si anak tersebut disarankan untuk menabung, supaya bisa membeli sepeda.

ʺJawaban Pak Harto sangat di luar dugaan dan membuat si anak kecewa, begitu juga dengan orang-orang yang hadir di Kelompencapir tersebut,ʺ tutur Mayor Amir.

Namun, lanjutnya, tanpa diketahui orang-orang, beberapa hari kemudian, utusan Pak Harto mendatangi rumah si anak. Bukan hanya membawa sepeda, tetapi juga membawa seragam sekolah, buku-buku, tas sekolah dan beasiswa untuk si anak.

ʺSaya sendiri sampai merinding dan terharu membaca kisah tersebut. Dan baru sadar, bahwa Pak Harto ingin mengajarkan kepada kita semua, untuk mendapatkan sesuatu, kita harus bekerja keras dan berusaha. Di sisi lain, beliau juga tidak ingin memamerkan kebaikan di hadapan banyak orang,ʺ jelasnya.

Pak Harto, lanjut Mayor Amir, benar-benar ingin mendidik anak bangsa untuk memiliki karakter yang kuat dan harus bekerja keras untuk meraih hasil. Namun, di sisi lain, beliau juga memiliki rasa welas asih dan tidak tega membiarkan si anak tersebut terus berjalan kaki belasan kilometer setiap hari.

Permintaan si anak terus terngiang, hingga akhirnya beliau mengirim utusan untuk memberikan kebutuhan si anak. Sikap murah hatinya tercermin, saat tak hanya sepeda saja yang diberi, sebagaimana permintaan si anak. Tetapi juga beasiswa, yang menjamin keberlangsungan pendidikan anak tersebut.

Sebagai tentara, Mayor Amir juga merasakan ketokohan Soeharto yang sangat kuat. Prestasi fenomenal Soeharto menumpas PKI, tidak akan pernah dilupakan bangsa ini. Beliau juga tampil sebagai presiden yang disegani di Asia.

ʺSaya dilantik menjadi tentara dengan SK dari Pak Harto. Tugas pertama saya ke Sumatera dan sewaktu saya akan berangkat ke Sumatera, saya melihat di televisi, Pak Harto mengundurkan diri. Campur aduk rasanya saat itu,ʺ kenangnya.

Soeharto di mata Mayor Amir, merupakan sosok pemimpin yang sebenar-benarnya. Ia selalu tampil tenang, tetapi semua keputusannya meyakinkan dan dipatuhi oleh semua orang. Beliau merupakan sosok pemimpin yang bisa menyatukan bangsa Indonesia.

 

Lihat juga...