hut

Soeharto, Prajurit TNI yang Jadi Panglima Delapan Kali

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sebelum menjabat sebagai Presiden RI, karir Pak Harto di dunia militer memang tak bisa dipandang sebelah mata.

Mengawali karir sebagai prajurit PETA, karir Pak Harto di dunia militer seolah tak bisa dibendung karena terus dipercaya mengemban tugas-tugas penting. Serta menempati posisi-posisi strategis tertinggi di jajaran korps TNI.

Meski begitu, menurut penulis buku “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Nur Johan Nuh, perjalanan karir Pak Harto di dunia militer ternyata tidak semulus yang kerap digambarkan banyak orang.

Berdasarkan catatan yang ada, Pak Harto pernah menempati belasan jabatan di tubuh TNI. Bahkan Pak Harto merupakan satu-satunya Prajurit TNI yang pernah menjadi panglima hingga 8 kali.

Nur Johan Nuh, penulis buku “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar” – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Karir militer Pak Harto tidak semulus begitu saja. Beliau pernah berganti 12 jabatan saat menjadi letnan kolonel. Lalu Pak Harto juga mengalami saat terjadi friksi-friksi di tubuh TNI tahun 1945 dan 1950. Beliau mencapai prestasi luar biasa dalam penumpasan PRRI tahun 1960. Termasuk saat dipercaya sebagai Panglima Komando Mandala dalam pembebasan Irian Barat,” ujarnya, di sela acara Upacara Bendera dan Tabur Bunga dalam rangka memperingati peristiwa Serangan Umum 1 Maret di makam Somenggalan, Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Kamis (28/2/2019).

“Setelah sekolah SSKAD,” lanjut Nur Johan, “Karir Pak Harto terus mencuat. Saat berpangkat brigjen beliau pernah mengisi 5 posisi jabatan. Pak Harto juga satu-satunya prajurit TNI yang pernah menjadi panglima 8 kali. Ini yang nggak pernah diungkap,” katanya menjelaskan isi buku yang ditulisnya, “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”.

Menurut Nur Johan, saat pemilihan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Pak Harto sebenarnya juga masuk sebagai salah satu nominasi. Namun justru yang terpilih saat itu adalah Ahmad Yani.

“Ini mungkin sudah jadi jalan sejarah. Andai Pak Harto menjadi KSAD mungkin beliau sudah jadi korban saat peristiwa 1 Oktober,” katanya.

Soehardjo Soebardi (kelima dari kanan) bersama pengunjung yang hadir di acara launching buku – Foto: Jatmika H Kusmargana

Dalan kegiatan upacara bendera dan tabur bunga dalam rangka memperingati peristiwa Serangan Umum 1 Maret di makam Somenggalan Kemusuk itu sendiri, buku karangan Nur Johan Nuh berjudul “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar” di-launching.

Buku ini kemudian dibagikan pada para peserta sebagai referensi mengenai sejarah Pak Harto yang belum diungkap.

Lihat juga...