Sparta Desak KPK Selidiki Pembangunan Jembatan Wai Ma di Lembata

Editor: Satmoko Budi Santoso

616

LEWOLEBA – Pembangunan jembatan Wai Ma yang menghubungkan kecamatan Nubatukan dan Nagawutung ambruk Senin (26/11/2018) meskipun baru dibangun dan dipergunakan selama sekitar 4 bulan. Dana yang dipergunakan sebesar Rp1,6 miliar dari dana tanggap darurat.

Ambruknya jembatan ini membuat Aliansi Sentra Perjuangan Rakyat Lembata (Sparta) Jakarta kembali mendatangi istana negara dan KPK RI guna mempertanyakan proses hukum kasus ini.

“Kami ke KPK RI untuk melakukan penyelidikan dan investigasi terhadap pemerintah kabupaten Lembata terkait dugaan tindakan pidana korupsi pembangunan jalan dan jembatan di kecamatan Nagawutun kabupaten Lembata senilai Rp1,6 miliar dalam APBD,” sebut Lambertus Leumara, berdasarkan rilis yang diterima Cendana News di Lewoleba, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/2/2019).

Lambertus Leumara, aktivis Sparta Jakarta. Foto: Ebed de Rosary

Kepada Cendana News, Lambertus menegaskan, pemerintah kabupaten Lembata mengeluarkan anggaran sebesar kurang lebih Rp1,6 milliar dalam APBD tahun anggaran 2018. Setelah itu, ditetapkan melalui peraturan Bupati Lembata nomor 41 tahun 2018 tentang Penjabaran APBD Mendahului Perubahan APBD, Tahun Anggaran 2018.

Sedangkan di dalam APBD induk dan Penjabaran APBD induk tahun anggaran 2018, sebutnya, tidak dianggarkan. Konstruksi Jembatan Wai Ma tidak ada anggaran perencanaan teknis dalam APBD Mendahului Perubahan tahun anggaran 2018.

“Menjadi pertanyaan kami, bangunan sebesar Rp1,6 miliar dari segi fisik, sudah pasti didasarkan pada rencana fisik. Siapa yang rencanakan atau siapa yang menggambar konstruksi tersebut? Sama halnya dari sisi anggaran, siapa yang menghitung item konstruksi yang nilainya Rp1,6  miliar ini?” tanyanya.

Publik tahu, bahwa banjir kali Wai Ma, kata Lambertus, sangat besar setiap musim hujan. Ini berarti harus direncanakan dengan matang dan dengan anggaran yang jelas oleh konsultan dan harus ditender. Dengan begitu, pembangunan fisik dalam rangka mitigasi untuk menghadapi ancaman bencana dapat tercapai.

“Ada yang mengatakan bahwa, Jembatan Wai Ma masuk kategori bangunan darurat, pernyataan tersebut tidak benar. Bangunan darurat termasuk kategori tanggap darurat bencana. Ini harus sesuai UU nomor 24 tahun 2007, Tanggap Darurat Bencana,” jelasnya.

Fakta menunjukan bahwa Jembatan Wai Ma, tegas Lambertus, belum dibangun, banjir besar setiap tahun mengalir tidak ada hambatan dan tidak menghancurkan bangunan apa pun termasuk jembatan.

Jika dikatakan bangunan darurat, tandasnya, maka dananya tidak sebesar Rp1,6 miliar. Hanya  untuk melancarkan mobilitas penduduk dan kendaraan pada saat banjir sudah reda.

“Sementara itu jembatan Wai Ma yang telah dibangun pada tahun 2018 yang lalu masih ambruk. Pemda Lembata beralasan bahwa masih membutuhkan dana lebih untuk membangun jembatan yang benar-benar kokoh,” ujarnya.

Lantas kenapa, lanjutnya, Pemda Lembata melangkahi pembangunan jembata Wai Ma yang sifatnya primer dan malah memilih untuk membangun kolam apung dan jeti apung di pulau Siput padahal pembangunan tersebut telah ditolak oleh masyarakat Lembata.

Masyarakat, sebutnya, menolak karena dinilai pembangunan tersebut akan menghilangkan nilai-nilai budaya di pulau Awololong atau pulau Siput. Apakah karena pembangunan pulau Awololong dananya lebih besar?

“Untuk itu Sparta Jakarta mendukung KPK untuk memberantas setiap tindak pidana korupsi di seluruh Indonesia pada umumnya dan Lembata NTT pada khususnya,” tegasnya.

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, kepada media mengatakan, jembatan di Waima dibangun dengan dana yang relatif terbatas. Hanya menggunakan dana sebesar Rp 1,6 miliar lebih padahal lokasi jembatan berada di daerah rawan banjir.

Terbatasnya dana itu, ujarnya, karena anggaran yang ada memang sebesar itu. Karena pemerintah memiliki komitmen kuat untuk kelancaran transportasi dari kota Lewoleba ke Loang tetap aman selama musim hujan, maka jembatan darurat ini dibangun.

“Konstruksi jembatan ini dibuat agar saat banjir air bisa mengalir di atas jembatan itu dan kendaraan pun bisa melewatinya meskipun terjadi banjir. Banjir yang terlalu besar di kali tersebut membuat oprit barat amblas dan jembatan pun rubuh,” ungkapnya.

Lihat juga...