SPSI Bekasi Raya Bersikap Independen di Pilpres 2019

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

351

BEKASI — Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kota dan Kabupaten Bekasi, R. Abdullah, menyatakan, pihaknya secara kelembagaan bersikap independen dalam menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April 2019.

Buruh yang tergabung dalam SPSI diklaim, sudah sangat cerdas, meskipun sebagai floating mass atau masyarakat ngambang yang belum memiliki calon tertentu, tetapi mereka tahu mana yang cocok untuk dipilih sebagai pemimpinnya.

“Secara kelembagaan independen, SPSI tidak pernah mengintruksikan untuk memilih calon A atau B. SPSI adalah organisasi universal, independen tidak berafiliasi kepada kepentingan partai manapun,” tegas R. Abdullah, di sela-sela peringatan hari jadi SPSI ke 46, Rabu (20/2/2019).

Ditegaskan, SPSI bukan underbow parpol apapun. Tetapi sebagai warga negara, tentunya mempunyai hak untuk menentukan siapa yang akan dipilih.

Buruh di Bekasi Raya yang tergabung tercatat mencapai 120 ribuan orang dan mereka bekerja di 600-an perusahaan.

Untuk itu, ungkap Abdullah, tentunya SPSI memiliki harapan besar dalam Pilpres 2019 dapat menghasilkan pemimpin yang memiliki komitmen kepada nilai-nilai kebangsaan. Sesuai amanat konstitusi untuk melindungi, mencerdaskan, menyejahterakan bangsanya dan memberi kesempatan untuk pergaulan internasional atas dasar perdamaian dan kemerdekaan.

“Tugas presiden sebagai pemimpin tertinggi adalah melaksanakan tugas konstitusi melalui semua turunannya dengan berbagai UU. Konstitusi bangsa tersebut mengandung empat amanat sebagaimana disebut di atas,” tegas Abdullah.

Ia menyebutkan, indikatornya dalam melindungi tumpah darah, sama dengan melindungi bangsanya. Salah satu contoh, Negara tidak terlalu liberal dalam memberi kesempatan tenaga kerja asing, harus ada batasan yang jelas.

“Umpamanya, hanya memperbolehkan tenaga kerja asing pada bidang yang tidak bisa dikerjakan oleh anak bangsa,” paparnya.

Dikatakan, saat ini Indonesia dihadapkan kepada revolusi industri 4.0. Negara harus hadir dalam mencerdaskan  rakyatnya dengan meningkatkan keahlian pekerja, atau skill.

“Jangan hanya selesai sekolah, anak bangsa tidak bisa ngapain, hanya siap mencari pekerjaan, tidak menciptakan lapangan pekerjaan,”tukasnya.

Ia berharap kedepan tidak perlu lagi ada demo buruh, atau unjuk rasa, tetapi kesejahteraan dari waktu ke waktu harus ada political will dari pemerintah. Sehingga tercukupi seperti sandang, pangan, papan dan tabungan.

“Bagaimana caranya, itu semua bisa terwujud pemerintah bisa membantu dengan peraturan yang berpihak kepada calon pekerja. Itu harapan kepada siapapun presiden,” pungkas Abdullah.

Lihat juga...