Tahun Baru Imlek Rekatkan Persaudaraan Serta Menghargai Kehidupan

212

LAMPUNG – Wihara Dharma Sasana di Jalan Pratu M.Yusuf, menjadi satu satunya tempat ibadah agama Buddha di Kalianda. Lamung Selatan. Pada Tahun Baru Cina 2019 atau Imlek 2570, wihara tersebut terlihat lebih ramai dibandingkan hari biasa.

Gunawan Salim, Kepala Wihara Dharma Sasana, yang kerap dipanggil Romo Gunawan menyebut, Imlek menjadi perayaan budaya etnis Tionghoa di seluruh dunia. Bagi yang beragama Buddha, dilakukan dengan sembahyang syukur.

Imlek erat kaitannya dengan bulan pertama yang baru, atau Xin Zheng, singkatan dari istilah Xin zheng yue. Istilah tersebut kerap diucapkan dengan kata cia gwe, dalam dialek Hokkian. Dan kerap dilafalkan dengan Sincia, untuk nama lain penyebutan Imlek di Indonesia. Semua keturunan etnis Tionghoa, tanpa kecuali apapun agamanya, merayakan Imlek. Beberapa diantaranya umat Kristen dan Katolik yang ada di Kalianda, ikut merayakan Imlek.

Tahun baru Imlek, memiliki makna mempererat persaudaraan antar sesama. Bentuk penghormatan juga dilakukan dalam rangkaian jelang tahun baru, dengan membersihkan altar para dewa, membersihkan foto para leluhur, serta mendoakannya. Selain kepada kerabat yang sudah meninggal, penghormatan juga dilakukan pada kerabat yang lebih tua, melalui tradisi kunjungan antar keluarga.

Gunawan Salim,kepala Vihara Dharma Sasana Kalianda Lampung Selatan – Foto Henk Widi

“Setelah berdoa di dalam keluarga, umat Buddha yang berdoa di wihara juga bisa saling mengucapkan selamat tahun baru dan memberikan angpao kepada anak anak yang belum bekerja,” beber Gunawan Salim, saat ditemui Cendana News, Selasa (5/2/2019).

Berdoa di wihara, kerap disimbolkan dengan penyalaan hio dan lilin. Lilin diletakkan di depan altar utama, sebagai simbol kehidupan. Setiap lilin, juga menjadi tanda dari setiap keluarga. Lilin, identik dengan warna merah, diberi nama sesuai dengan keluarga yang mengirimkan lilin, kemudian dinyalakan saat malam pergantian tahun baru Imlek. Setelah berdoa, beberapa umat akan melakukan tradisi Fengsheng.

Fengsheng, disimbolkan dengan melepas hewan, yang biasa digunakan adalah burung. Satwa biasa dibeli dari pedagang yang ada di depan Wihara Dharma Sasana. Fengsheng memiliki makna, menghargai kehidupan dan tidak membunuh makhluk hidup.

Selain berdoa, warga juga saling mengunjungi. Kegiatan menerima tamu, juga dilakukan untuk memberi kesempatan warga lain berkunjung. Pada tradisi tersebut, tuan rumah akan memberikan angpao, berupa amplop merah berisi sejumlah uang simbol kemakmuran. “Angpao kerap diberikan kepada anak anak kecil serta remaja yang belum bekerja, sebagai simbol pemberi ikut berbagi berkat tahun baru Imlek,” beber Gunawan Salim.

Pada tradisi kunjungan, tuan rumah menyajikan buah seperti apel, jeruk dan kue tutun atau kue keranjang. Di wilayah Kalianda, yang merupakan kawasan pesisir pantai otak-otak ikan juga kerap disajikan bersama dengan empek-empek ikan. Tahun ini, Imlek dirayakan dengan kesederhanaan karena usai tsunami melanda wilayah Lamsel.

Wihara Dharma Sasana, menjadi salah satu posko logistik bantuan untuk korban bencana. Dukungan kepada korban tsunami, menjadi manifestasi menghargai kehidupan. Satu bulan usai tsunami, tahun baru Imlek, menjadi momentum intropeksi bagi etnis Tionghoa yang tinggal di Kalianda.

Lihat juga...