hut

Tertekan Kenaikan Jumlah Rig AS, Harga Minyak di Asia Turun

Ilustrasi - Pengeboran Minyak - Dok CDN

SINGAPURA — Harga minyak mentah turun di awal perdagangan Asia pada Senin pagi (11/2/2019), karena aktivitas pengeboran AS meningkat dan ketika produsen minyak terbesar Rusia menekan Presiden Vladimir Putin untuk mengakhiri kesepakatan pengurangan pasokan dengan klub produsen OPEC yang didominasi Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), berada di 52,44 dolar AS per barel pada pukul 00.36 GMT, turun 28 sen AS atau 0,5 persen, dari penyelesaian terakhir mereka. Sementara minyak mentah berjangka internasional Brent turun 10 sen AS atau 0,2 persen, menjadi 62 dolar AS per barel.

Di Amerika Serikat, perusahaan-persahaan energi minggu lalu meningkatkan jumlah rig minyak yang beroperasi untuk kedua kalinya dalam tiga minggu, sebuah laporan mingguan oleh Baker Hughes mengatakan pada Jumat (8/2).

Perusahaan-perusahaan energi AS menambahkan 7 rig minyak dalam seminggu yang berakhir 8 Februari, sehingga jumlah rig yang beroperasi menjadi 854 rig, menunjukkan kenaikan lebih lanjut dalam produksi minyak mentah AS, yang sudah mencapai rekor 11,9 juta barel per hari (bph).

Di tempat lain, kepala raksasa minyak Rusia Rosneft, Igor Sechin, telah menulis surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kesepakatan Moskow dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menahan produksi adalah ancaman strategis dan menguntungkan Amerika. Serikat.

Apa yang disebut kesepakatan OPEC+ telah berlaku sejak 2017, yang bertujuan mengekang pasokan global. Langkah ini telah diperpanjang beberapa kali dan, di bawah kesepakatan terbaru, para peserta memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari hingga akhir Juni.

OPEC dan sekutunya akan bertemu pada 17-18 April di Wina untuk meninjau pakta tersebut.

Mencegah harga minyak mentah jatuh lebih jauh adalah sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela, yang menargetkan perusahaan minyak milik negara PDVSA.

“Masalah-masalah di Venezuela terus mendukung harga. Laporan muncul bahwa PDVSA berusaha keras untuk mengamankan pasar baru untuk minyak mentahnya, setelah AS memberikan sanksi-sanksi tambahan pada negara itu,” kata bank ANZ, Senin. [Ant]

Lihat juga...