Tidayu, Tarian Tiga Suku Dipentaskan di TMII

Editor: Koko Triarko

384

JAKARTA – Kalimantan Barat menyimpan sejuta keunikan, salah satunya adalah tarian yang memadukan budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu (Tidayu). 

Tari Tidayu ditampilkan para penari Sanggar Borneo Khatulistiwa Diklat Seni Anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (23/2) sore. Gerakan luwes para penari Tidayu dilakukan bersamaan dengan alunan musik khas ketiga suku tersebut.

Dua penari perempuan dewasa memulai gerakan cantik tarian Tionghoa nan elok. Disusul para penari cilik dengan gerakan gemulai dan tangan memegang lampion. Alunan musik oriental mengiringi tarian yang mereka sajikan.

Kemudian penari Dayak menampilkan kegemulaian gerakan dengan bulu-bulu burung menghiasi tangannya. Tarian  ini diiringi alunan musik khas Dayak.

Pelatih Sanggar Borneo Khatilistiwa, Haduji Adya Pabelan. -Foto: Sri Sugiarti

Tidak lama kemudian, alunan musik yang mengiringi tarian ini berubah. Dari musik Dayak ke aransemen Melayu. Seiring dengan musik, para penari dengan gemulainya menari Melayu.

Paduan tarian tiga suku ini sangat memukau. Penonton pun hanyut dalam setiap gerakan dan alunan musik khasnya.

Pelatih Sanggar Borneo Khatilistiwa, Haduji Adya Pabelan, mengatakan, Kalimantan Barat adalah provinsi multietnik yang terdiri Suku Melayu, Dayak dan Tionghoa.

Ada pun makna Tidayu, jelas dia, adalah dengan semua suku besar yang ada, masyarakat tetap bersatu dengan segala perbedaan.

“Tarian Tidayu ini kreasi tari yang menggambarkan keharmonisan Tionghoa, Dayak dan Melayu,” kata Aji, sapaan Haduji Adya Pabelan kepada Cendana News, Sabtu (23/2/2019) sore.

Kalimantan Barat merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang beribukota di Pontianak. Banyaknya daerah yang ada di provinsi ini menghadirkan ragam etnis, tersebar di seluruh provinsi Kalimantan.

Untuk menghargai keharmonisan ketiga suku tersebut, ditampilkan tari Tidayu sebagai sebuah simbol pemersatu. “Untuk tampil maksimal menari Tidayu, butuh latihan dua minggu. Kami komitmen untuk melestarikan budaya Kalimantan Barat,” ujarnya.

Aji bangga melihat antusias anak didiknya berlatih tari khas Kalimantan. Menurutnya, mereka sangat menjiwai setiap gerakan tari. Dengan latihan menari daerah, dia berharap generasi milenia perlahan mencintai budaya bangsa.

Dijelaskan Adi, peserta Sanggar Borneo Khatulistiwa tercatat 30 orang dari berbagai sekolah dan daerah. Dalam latihan tari khas Dayak Kalimantan Barat, terdiri dari berbagai tingkatan.

Setiap enam bulan sekali, hasil latihan menari akan diujikan. Ujian ini sebagai penilaian layak tidaknya mereka naik kelas ke tingkat latihan berikutnya.

Dia juga bangga, karena anak didiknya sering tampil di berbagai acara yang digelar TMII. Seperti HUT TMII, parade tari daerah,  karnaval budaya, HUT Hari Cinta Puspa serta Satwa Nasional (HCPSN) 2018 di Candi Bentar TMII dan lainnya.

Selain itu, anak didiknya pernah  tampil di istana negara dan kedutaan besar (Kedubes) Amerika Serikat, festival Nusa Dua Fiesta (NDF) 2014 dan lainnya.

Sanggar Borneo Khatulistiwa juga tampil di luar negeri mewakili Indonesia, mempromosikan budaya bangsa. Tercatat, pada 2011 tampil di Perancis dalam kompetisi budaya dan meraih juara pertama.

“Alhamdulillah, kita mewakili Indonesia dan jadi juara. Ini sangat membanggakan, jadi kenangan tak terlupakan,” ujarnya.

Menurutnya, TMII sebagai wahana edukasi pelestarian dan pengembangan seni budaya bangsa. Dengan menghadirkan sanggar-sanggar seni di setiap anjungan daerah.

“Sanggar ini kan sarana edukasi  budaya. Saya harapkan generasi milenial turut melestarikan budaya daerahnya, dengan berlatih di sanggar yang ada di TMII. Mereka harus belajar ragam tarian Indonesia, seperti tarian khas Kalimantan Barat ini,” katanya.

Anggraeni, mengaku sudah setahun berlatih menari khas Kalimantan Barat di sanggar ini. Padahal, ia merupakan warga asli Jakarta. “Saya asli Jakarta, tapi tertarik tarian khas Kalimantan Barat. Ya, karena gerakannya unik yang mencermikan kehidupan,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...