Titiek Soeharto: Kita Harus Bergerak Menuju Perubahan

Editor: Koko Triarko

1.341

JAKARTA – Siti Hediati Haryadi menghadiri doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara di Taman Anggrek Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (12/2/2019). Putri Cendana yang karib disapa Titiek Soeharto itu merasa senang bisa bertemu dengan ibu-ibu majelis taklim dalam balutan doa bersama, untuk keselamatan bangsa dan negara Indonesia. 

Ia pun mengajak peserta majelis taklim untuk selalu memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat-Nya, sehingga dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal afiat.

“Salawat kita panjatkan untuk Nabi Besar Muhammad SAW, yang menuntun manusia menuju kebenaran dalam iman dan Islam,” kata Titiek Soeharto, dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, selain doa bersama dengan majelis ilmu, pertemuan ini merupakan pelepas rasa kangen. “Pertemuaan ini mengembalikan ingatan saya pada saat kita menjadi Persit (Persatuan Istri Tentara) waktu itu. Pertemuan ini pelepas rasa kangen,” ucap Titiek Soeharto, disambut kegembiraan para jemaah yang merupakan mantan anggota Persit.

Menurut Titiek Soeharto, doa bersama bagi keselamatan bangsa dan negara merupakan tema yang tepat dan relevan, dalam situasi saat ini.

“Saya merasakan kekhawatiran melihat kondisi kebangsaan dan negara saat ini. Oleh karenanya, berdoa memohon pertolongan kepada Allah SWT adalah amanah yang tidak boleh lepas dari setiap insan,” tegasnya.

Menurut Titiek Soeharto, berdoa bersama dan dilanjutkan dengan kajian ilmu,insyallah akan menjadi tambahan amal ibadah. Berharap Allah SWT mengabulkan doa-doa ini bagi kesehatan bangsa dan negara Indonesia yang sangat dicintai.

Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) foto bersama ibu-ibu pada doa bersama bagi keselamatan bangsa dan negara di Taman Anggrek TMII, Jakarta, Selasa (12/2/2019). -Foto: Sri Sugiarti

Pada kesempatan ini, ia juga mengingatkan, bahwa permasalahan politik saat ini tentu situasinya berbeda dengan keadaan 10 tahun atau 20 tahun yang lalu.

“Saat ini, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), tampaknya terjadi tanda benturan yang keras akibat perbedaan pilihan politik,” ujarnya.

Hal ini, jelas dia, terjadi di tingkat elit hingga ke masyarakat tingkat bawah. Bahkan, di lingkungan keluarga perpecahan itu terjadi. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan.

“Karenanya, kita memohon kepada Allah SWT, agar bangsa ini diselamatkan dan ditetapkan sebagai bangsa yang mampu melewati proses demokrasi yang adil, arif, bijaksana, rukun dan damai,” katanya.

Pada kesempatan ini, Titiek Soeharto juga berbagi pengalaman kepada para jemaah, terkait kunjungannya ke daerah-daerah.

“Saat saya berkunjung ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, saya menerima begitu banyak masukan dari masyarakat,” ujarnya.

Masyarakat tingkat bawah, rata-rata mengeluhkan mengenai kesulitan perekonomian yang mereka hadapi, yang dipicu oleh harga bahan pokok yang naik. Mereka juga khawatir dengan suami dan anak-anaknya, sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka juga merasa ketakutan dengan ancaman peredaran narkoba yang begitu marak di seluruh pelosok Tanah Air ini.

“Para petani, peternak, buruh dan nelayan, juga sama menyampaikan aspirasi kepada saya.  Mereka mengalami kesulitan akibat banyaknya komoditi impor yang secara langsung menganggu harga komoditi mereka,” ungkapnya.

Keluhan lainnya adalah mengenai penegakan hukum yang tidak adil dari berbagai peristiwa yang ada saat ini. “Ada kecenderungan, hukum berat sebelah. Penegakan hukum hanya tajam kepada lawan, tetapi tumpul kepada kawan,” tukasnya.

Titiek Soeharto menyakini, bahwa masyarakat Indonesia mengharapkan penegakan hukum dalam peristiwa apa pun itu harus adil tidak berat sebelah.

“Saya dan semoga ibu-ibu di sini juga berpendapat sama, berharap adanya perubahan yang mengarah pada perbaikan bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Titiek Soeharto juga percaya, bahwa kekuatan doa dari jemaah semua akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT. “Kita gunakan akal sehat, pikiran, kalbu dan nurani untuk bisa melihat ketimpangan-ketimpangan yang ada di  masyarakat. Sehingga kita tergerak adanya perubahan untuk Indonesia,” ujarnya.

Menurut Titiek Soehato, untuk melakukan perubahan yang besar, hanya dapat dilakukan oleh pemimpin yang berjiwa besar, pemimpin yang berkemampuan merestorasi berbagai kebijakan, pemimpin yang tangguh tahu cara merehabilitasi berbagai ketimpangan. Dan, tentunya  mampu menghadirkan keadilan dan kemakmuran untuk semua.

“Saya percaya, pilihan saya dan ibu-ibu sama. Betul?” tanya Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya ini, disambut teriakan setuju para jemaah.

Titiek Soeharto mengimbau, agar tetap menyakini dan percaya bahwa pasangan Prabowo-Sandi memiliki kesungguhan, kejujuran, krediabitas dan kreativitas.

“Kita tetap menyakini, kita melihat dan percaya, keduanya yaitu Prabowo-Sandi Sandi, mampu meningkatkan harga dan martabat bangsa dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat, sejahtera, adil dan makmur,” tegasnya.

Putri Presiden kedua RI, HM Sohearto, ini mengajak jemaah yang merupakan ibu-ibu untuk berjuang menuju perubahan Indonesia lebih baik lagi ke depannya.

“Saya ingatkan, bahwa pemilu pesta demokrasi tinggal 64 hari lagi. Waktu begitu cepat berlalu, kita tidak bisa berpangku tangan berdiam diri saja, tapi kita harus bergerak untuk menuju perubahan Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera,” tukasnya.

Dalam doanya, Titiek Soeharto berharap Allah SWT selalu meridhoi langkah perjuangan pasangan Prabowo-Sandi untuk mewujudkan Indonesia adil dan makmur.

“Saya rasa, kita sudah sehati, apa yang ada di hati saya, ada di hati ibu-ibu. Semoga Allah Yang Maha Kuasa senantiasa melindungi dan merihdoi langkah kita, dalam mengabdi pada bangsa dan negara Indonesia,” tutup Titiek Soeharto, disambut dukungan jemaah yang menggema.

Usai sambutan, Titiek Soeharto pun melepas kangen dengan para ibu-ibu dengan berswafoto secara bergantian. Momen kebersamaan itu terlihat begitu indah dengan hiasan senyum khas putri Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto, yang tak henti ditebar.

Doa bersama bagi keselamatan bangsa dan negara ini dihadiri sekitar 600 jemaah dari berbagai wilayah. Doa ini menggema dengan harapan adanya perubahan untuk Indonesia lebih baik lagi.

Lihat juga...