Titiek Soeharto: Rugikan UMKM, Perlu Evaluasi Kebijakan Bagasi Berbayar

Editor: Satmoko Budi Santoso

896

MATARAM – Kebijakan sejumlah maskapai penerbangan menerapkan tarif bagasi berbayar dan kenaikan harga tiket dinilai telah merugikan masyarakat pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sebab terjadi penurunan pembelian dan kunjungan.

“Saya sangat prihatin, sekaligus tidak habis pikir. Apakah tidak dipikirkan kalau bagasi dikenakan biaya tambahan, wisatawan tentu tidak akan mau membeli barang oleh-oleh, karena ongkos mahal sehingga yang rugi juga UMKM,” kata Siti Hediati Hariyadi atau akrab pula disapa Titiek Soeharto ketika berkunjung ke sentra kerajinan kain tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Kamis (14/2/2019).

Padahal, lanjutnya, kalau ke daerah mesti beli oleh-oleh, baik oleh-oleh berupa hasil kerajinan maupun makanan olahan, seperti belanja keripik. Kalau dikenakan biaya bagasi, lebih mahal ongkos angkutnya daripada harganya.

Padahal, semestinya, yang namanya penumpang itu berhak bisa membawa bagasi sampai batas tertentu. Karena itu mudah-mudahan bisa dilakukan kajian ulang oleh pemerintah.

Titiek Soeharto di antara para perajin di NTB – Foto: Turmuzi

“Sebagai upaya memajukan UMKM, pemerintah juga perlu lebih serius melakukan intervensi dalam membantu masyarakat UMKM.

Misalnya dalam hal permodalan diperbaiki, peningkatam SDM melalui pelatihan, pemasaran produk, supaya memenuhi standar,” katanya.

Sementara itu, Amin, salah satu owner kerajinan kain tenun di Desa Sukarara mengatakan, kondisi UMKM sekarang bisa dikatakan sedang lesu. Itu dimulai semenjak bencana gempa bumi beberapa waktu lalu, ditambah bencana gempa di daerah lain sehingga sangat berpengaruh.

Ditambah kebijakan bagasi berbayar dan kenaikan harga tiket, masyarakat penyedia oleh-oleh contohnya, sangat terdampak. Wisatawan tidak lagi mau membawa dalam jumlah banyak, karena biaya mahal, sehingga yang paling terdampak perajin dan toko oleh-oleh.

“Sebagai dampaknya penjualan menurun, sebab penumpang tidak mau membawa barang dengan berat di atas tujuh kilo. Karena kalau sudah di atas tujuh kilo kena cas, sehingga wisatawan tidak mau membeli dalam jumlah lebih banyak,” jelas Amin.

Amin pun berharap, dengan kondisi ini pemerintah bisa cepat tanggap, entah dengan subsidi, penurunan harga tiket, atau mengevaluasi kebijakan bagasi berbayar.

Lihat juga...