hut

Tradisi Syukuran Nelayan Melaut, Lestari di Pesisir Bakauheni

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Ketergantungan masyarakat pesisir pantai Bakauheni, Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) sebagai nelayan sempat terhenti akibat tsunami.

Tahang (50) pemilik usaha perebusan teri di pantai Minang Rua, desa Kelawi, kecamatan Bakauheni menyebut, tsunami pada Sabtu (22/12/2018) silam mengakibatkan kerusakan usaha perebusan teri, perahu, bagan apung nelayan.

Pemulihan perbaikan tempat usaha disebutnya membutuhkan waktu sebulan.

Selesainya perbaikan dan pemulihan sejumlah fasilitas usaha, perbaikan perahu diawali oleh nelayan dengan tradisi syukuran.

Tahang menyebut, tradisi tersebut erat kaitannya dengan rekonsiliasi dengan alam, introspeksi para nelayan usai bencana melanda.

Ia menyebut dalam tradisi syukuran tersebut dibuat dengan acara sederhana mengundang nelayan yang memiliki usaha di sekitar pantai. Pada acara skala besar kerap dilakukan tradisi ruwat laut atau larung sesaji melibatkan ratusan nelayan.

Tahang, pemilik tempat perebusan teri di pantai Minang Rua Bakauheni – Foto: Henk Widi

Tradisi syukur selesainya pembuatan fasilitas tempat perebusan baru, perbaikan perahu, diakui Tahang dimulai dengan memanjatkan doa.

Sejumlah kelengkapan dalam ucapan syukur tersebut masih kental menggunakan tradisi penyiapan ingkung atau ayam yang dimasak utuh tanpa dipatahkan bagian tulang, minuman rupa-rupa, bunga, rokok, serta pelengkap lain.

Semua peralatan yang merupakan sesaji tersebut merupakan bentuk sedekah kepada sang pencipta dan penjaga laut di perairan Selat Sunda.

“Doa bersama dilakukan oleh sesepuh nelayan yang dituakan di pesisir Rajabasa dan Kalianda. Untuk bersyukur memohon keselamatan sekaligus memulai usaha usai tsunami dengan harapan mata pencaharian sebagai nelayan bisa menjadi sumber penghidupan,” terang Tahang, salah satu nelayan pemilik usaha perebusan teri di pantai Minang Rua, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (10/2/2019).

Pelestarian tradisi tersebut, diakui Tahang, menjadi simbol nelayan hanya bergantung kepada sang Pencipta pemilik lautan. Pasca bencana tsunami yang menghancurkan sebagian perahu dan bagan apung, nelayan tetap ingin melanjutkan usaha dari laut.

Permulaan kembali melaut tersebut diakuinya dengan memohon izin kepada pemberi rejeki dan dilakukan dengan memberi sedekah. Sedekah kepada penguasa lautan dan juga sesama yang ada di sekitar pantai Minang Rua.

Sesepuh nelayan pesisir Rajabasa dan Bakauheni, Masjari (70) yang menjadi pendoa bagi tradisi syukuran menyebut, sedekah laut sangat penting. Laut dan segala isinya merupakan milik sang pencipta sehingga manusia hanya meminta dan berusaha.

Sikap bersyukur terhadap segala usaha di laut tidak bisa dilepaskan dari pasrah kepada Sang Pencipta. Musibah tsunami disebutnya secara spritual dimaknai sebagai ujian kepada nelayan untuk lebih menghargai lautan.

“Kita berdoa kepada Sang Pencipta dengan menggunakan cara Islam agar nelayan tetap bisa memperoleh rejeki melalui kegiatan di laut,” beber Masjari.

Masjari yang tinggal di wilayah desa Way Muli menyebut, sedekah bagi nelayan disebutnya sangat penting. Tradisi tersebut bisa dilakukan secara pribadi maupun komunal sebagai komunitas nelayan.

Secara simbolis sesaji atau sejumlah persyaratan dalam tradisi syukur menyimbolkan makna berbagi oleh nelayan yang memiliki hajat atau niat. Mengundang warga sekitar juga sekaligus menjaga relasi horisontal kepada sesama dan berdoa menjalin relasi vertikal pada Sang Pencipta.

Seusai didoakan, sejumlah sesaji tersebut ditempatkan pada titik lokasi perebusan teri, di dekat pantai lokasi pendaratan perahu sebagian dilarung ke laut. Pelarungan dimaksudkan untuk memberi sedekah kepada penguasa laut yang selama ini memberi kehidupan dengan tetap memohon kepada Sang Pencipta.

Seusai ritual tersebut Masjari menyebut, usaha dan doa tetap kembali kepada nelayan yang mencari penghidupan di laut.

Seusai melakukan ritual doa, sembari menunggu sejumlah kaum wanita menyiapkan hidangan kaum laki-laki yang melakukan pembersihan area pantai. Pembersihan area pantai tersebut termasuk menyingkirkan sejumlah perahu yang sempat berserakan akibat tsunami.

Sejumlah perahu yang berada di tepi pantai sebagian masih bisa digunakan termasuk bagan apung sebagai fasilitas untuk mencari ikan teri.

Sesuai pembersihan area pantai tersebut sejumlah perahu dan bagan bisa memulai aktivitas melaut. Masjari menyebut tradisi gotong royong tidak bisa dilepaskan dari kehidupan nelayan.

Kebersamaan serta sikap saling membantu sekaligus menjadi hubungan horisontal yang harmonis. Relasi tersebut semakin terlihat seusai gotong royong membenahi tempat usaha dan fasilitas usaha melaut dengan makan bersama. Makan bersama atau bancakan disediakan oleh si empunya pemilik perebusan teri.

Usai doa syukur memohon keselamatan, gotong royong memindahkan perahu sejumlah nelayan, kemudian melakukan kegiatan makan bersama atau bancakan dengan alas daun pisang – Foto: Henk Widi

Supinah (50) salah satu ibu rumah tangga yang terlibat dalam penyiapan sejumlah hidangan menyebut tradisi makan bersama merupakan ungkapan syukur. Sejumlah wanita yang ada di dusun Minang Rua diakuinya ikut dilibatkan dimulai dari memasak hingga menghidangkan sejumlah menu.

Menu yang disediakan berupa opor ayam serta sejumlah hidangan pelengkap lain disiapkan pada wadah daun pisang dan kertas nasi.

Seusai semua siap dihidangkan, masyarakat baik anak-anak, pemuda, wanita dan orang dewasa, melakukan kegiatan makan bersama. Kegiatan makan bersama atau bancakan tersebut menjadi simbol mempererat kebersamaan bagi para nelayan.

Kegiatan makan bersama tersebut menurut Supinah, sekaligus menjadi ungkapan syukur dan sedekah oleh empunya hajat atau niat. Semangat berbagi menjadi harapan untuk memulai usaha mengandalkan laut sebagai sumber penghidupan diawali dengan tradisi syukuran.

Lihat juga...