Tutut Soeharto: Bapak Saya Anak Dusun, Tiap Subuh Tabuh Beduk

Editor: Koko Triarko

636

PURWOREJO – Siti Hardiyanti Rukmana, mengajak santriwan-santriwati untuk belajar memiliki sikap berani dan tanggung-jawab dalam segala hal, termasuk dalam berdemokrasi. 

“Anak-anak muda harus berani. Tapi, berani yang bertanggung-jawab. Jangan sesuka hati. Seperti juga dalam berdemokrasi. Sanggup kan melaksanakan demokrasi yang bertanggung jawab?” ujar Siti Hardiyanti Rukmana, yang karib disapa Tutut Soeharto, di hadapan ribuan santriwan-santriwati Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, Minggu (17/2/2019).

Hadir bersama Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto), putri sulung Presiden kedua RI, HM Soeharto, itu mengatakan, bahwa menjalankan demokrasi juga harus dilandasi sikap tanggung jawab oleh setiap elemen bangsa. Yakni, sikap bertanggung jawab kepada bangsa dan negara.

“Kita semua mengaku berdemokrasi. Tapi kalau orang lain beda pendapat, kita marah. Harus mau ikuti pemahaman kita. Itu bukan demokrasi, namanya. Tapi, pemaksaan kehendak. Itu tidak boleh, ya” ujarnya, penuh nada keibuan.

Sebagaimana dalam kegiatan-kegiatan lainnya, Tutut Soeharto tampak akrab dengan seluruh masyarakat, termasuk dengan para santriwan-santriwati di Ponpes Pimpinan KH Ahmad Chalwani, ini.

Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto), silaturahmi bersama ribuan santri Ponpes An-Nawawi, Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, pimpinan KH Ahmad Chalwani, Minggu (17/2/2019) -Foto: Jatmika H Kusmargana

Seperti biasa pula, Tutut Soeharto juga meminta sejumlah warga, dalam hal ini para santri, untuk maju dan berdialog dengannya.  Secara bergantian, Tutut Soeharto menanyai satu-persatu santriwan-santriwati yang maju ke atas panggung.

Mulai dari soal pelajaran hingga cita-cita masa depan mereka. Ia juga memberikan semangat, motivasi dengan sesekali bercanda dengan para santriwan-santriwati.

“Santri di sini jangan pernah minder jadi orang dari daerah pelosok. Karena bapak saya juga lahir sebagai orang dusun dan seorang petani. Saat kecil, kehidupannya banyak dihabiskan di surau-surau. Kalau subuh, biasa tabuh beduk,” katanya.

Dalam rangkaian kunjungannya ke Jawa Tengah pada akhir pekan ini, Tutut Soeharto mengunjungi sejumlah kota, seperti Temanggung, Wonosobo dan Purworejo.

Selama kunjungan itu, ia selalu menyempatkan diri untuk berdialog langsung dengan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari petani, peternak, pelalu UKM hingga santriwan-santriwati maupun masyarakat umum lainnya.

Lihat juga...