Usaha di Jalinsum Mulai Terdampak Keberadaan Jalan Tol Sumatera

Editor: Mahadeva

268

LAMPUNG – Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar mulai berdampak pada usaha masyarakat. Usaha seperti penyedia jasa ekspedisi, penyeberangan, kuliner dan jasa reparasi kendaraan mengalami penurunan jumlah pelanggan.

Siti Aminah, salah satu pemilik warung makan di Dusun Buring, Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan menyebut, keberadaan jalan tol meski belum diresmikan sudah sangat terasa. Jumlah kendaraan yang melintas akan menyeberang ke Jawa di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) mulai berkurang. Mereka memilih menggunakan jalan tol. Kondisi tersebut terjadi mjulai dari Kilometer (KM) 0 hingga KM 8,9 di Desa Bakauheni.

Sementara, kendaraan yang berasal dari Jawa, usai turun dari kapal langsung masuk ke jalan tol. Dengan demikian, sejumlah rumah makan kehilangan pelanggan. “Sudah dua tahun terakhir akses jalan tol yang sebagian dioperasikan, membuat rumah makan mulai mengalami dampak berkurangnya pelanggan. Apalagi jika semua ruas telah difungsikan dari Lampung Selatan hingga Lampung Tengah,” terang Siti Aminah salah satu pengelola warung makan di Jalinsum saat ditemui Cendana News, Selasa (19/2/2019).

Salah satu rumah makan di Jalan Lintas KM 11 Kecamatan Penengahan Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Siti Aminah menyebut, harapan terakhir pemilik warung makan di Jalinsum seperti Dirinya, tinggal dari kendaraan ekspedisi. Kendaraan truk ekspedisi yang masih memilih melintas di Jalinsum, masih memilih berhenti di warung makan miliknya untuk sejumlah keperluan. Keperluan utama para pengemudi dan awak truk adalah, makan, menambah angin, reparasi mesin, hingga mencuci kendaraan.

Selain memberi penghasilan bagi pemilik warung makan, saat kendaraan ekspedisi berhenti sejumlah usaha lain ikut mendapat keuntungan. Saat jalan tol Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggibesar dioperasikan seluruhnya, Siti Aminah yakin, usaha yang ada di Jalinsum akan gulung tikar. Pemilik modal yang juga memiliki lahan di dekat pintu tol, memilih memindahkan usaha di lokasi yang dekat dengan pintu tol.

Kendaraan yang akan masuk dan keluar jalan tol, menggunakan waktu istirahat di warung makan yang juga menyediakan jasa tambal ban dan reparasi kendaraan di sekitar pintu tol. Dalam kondisi normal sebelum jalan tol Sumatera beroperasi, warung Siti Aminah didatangi sedikitnya 50 kendaraan truk. Dengan adanya lahan luas untuk parkir, lokasi bak penampungan air untuk mencuci kendaraan, tempat istirahat sopir, membuat warung makan miliknya menjadi lokasi perhentian.

Kini setelah jalan tol dioperasikan, maksimal hanya sekira 30 kendaraan truk ekspedisi yang berhenti di warung miliknya. Relasi antara pengemudi, pemilik jasa ekspedisi, pemilik warung makan, disebutnya menjadi relasi saling menguntungkan.

Pengemudi dan awak truk, disebutnya sudah bekerjasama dan memberikan deposit untuk kebutuhan makan para pengemudi. Meski demikian, dari sebagian pemilik usaha ekspedisi memilih menggunakan jalan tol, sehingga kendaraan tidak lagi melintas di Jalinsum.

Aris Maulana, pengemudi truk ekpedisi lintas Sumatera ke Jawa menyebut, keberadaan jalan tol mulai banyak digunakan. Meski demikian, Aris Maulana yang mengangkut beras dari Lamsel ke Jakarta, masih memilih melintas lewat Jalinsum. Keberadaan jalan tol, bagi pemilik usaha ekspedisi akan berimbas pada keluarnya biaya lebih.

Bila dibandingkan dengan saat melintas di Jalinsum, biaya di jalan tol jauh lebih besar. “Keberadaan jalan tol memang bagus untuk transportasi namun pemilik ekspedisi memilih masih bertahan melintas di Jalinsum,” beber Aris Maulana.

Pengemudi truk melintas di jalan tol atau tidak tergantung pada penyedia jasa ekspedisi. Penyedia jasa ekspedisi atau jasa penyeberangan melalui pelabuhan Bakauheni, masih memanfaatkan warung makan untuk berkoordinasi. Koordinasi tersebut berkaitan dengan pembelian tiket kapal, keamanan, serta uang jalan. Pengemudi yang hanya membawa uang minim, memilih tidak melintas di jalan tol, dan masih mengandalkan berhenti di warung makan yang ada di Jalinsum.

Lihat juga...