Usaha Hatchery di Rajabasa Mulai Bangkit

Editor: Mahadeva

231

LAMPUNG – Usaha pembenihan udang (hatchery) di Lampung Selatan mulai beroperasi. Mereka mulai melakukan pembenuran udang putih (vaname).

Zainal,penanggungjawab usaha hatchery atau pembenihan udang vaname di desa Way Muli Induk kecamatan Rajabasa Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Zainal, penanggungjawab hatchery Cahaya Biru Samudera, Desa Way Muli Induk menyebut, sebagian kerusakan di temapt usaha tersebut sudah mulai diperbaiki. Kerusakan tersebut diantaranya, tembok hatchery, pipa penyaluran air laut, serta kolam kolam pembenihan udang. Benih udang atau benur, saat ini mulai bisa dikembangkan, untuk memenuhi permintaan petambak udang di Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Zainal menyebut, pembenihan udang untuk mendapatkan Post Larva (PL) atau benur udang, juga didukung oleh kondisi air laut yang mulai normal. Sebulan sebelumnya, kondisi air laut tercemar oleh zat sulfur atau belerang, yang keluar dari Gunung Anak Krakatau (GAK). Kini kondisi air yang mulai jernih, bisa dipergunakan untuk pembenuran udang vaname.

“Sebagian hatchery atau tempat usaha pembenihan udang yang berada di dekat laut, sebagian belum beroperasi. Namun, yang diseberang jalan sudah beroperasi, permintaan juga mulai normal kembali,” beber Zainal saat ditemui Cendana News, Rabu (6/2/2019).

Kerusakan lingkungan pesisir pantai, berdampak pada lambatnya operasional hatchery di pesisir Rajabasa. Beruntung ada alat khusus, yang berguna menetralisir air laut. Usaha tersebut, juga diuntungkan dengan lokasi usaha penyedia pakan benih udang, yang dikenal dengan artemia di Desa Way Muli Induk tidak terdampak tsunami.

Permintaan benur vaname, dengan ukuran Post Larva (PL) 10, mulai kembali bermunculan dari sejumlah petambak. Permintaan bervariasi, sesuai dengan kebutuhan sekaligus memperhitungkan luasan tambak yang ada. Pengambilan benur oleh petambak, kerap dilakukan sepekan sekali.

Waris, salah satu penjaga hatchery di Desa Kunjir menyebut, kolam pembenuran udang mulai kembali diisi benih. Proses penetasan mulai dilakukan, dengan harapan bisa dipanen dan dikirim ke sejumlah pemesan pekan depan. “Kolam mulai diperbaiki, termasuk mesin genset, sirkulasi pengairan dan udara serta blower sudah diperbaiki,” beber Waris.

Soni, pemilik tambak udang asal Desa Bandar Negeri, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, mengaku, pertama kali membeli benur usai tsunami. Terakhir membeli benur, ia menyebut bertepatan dengan beberapa jam sebelum tsunami melanda pada Sabtu (22/12/2018) silam.

Saat ini, Soni membeli 3.000 benur ukuran PL 10. Benur vaname dibeli Rp30.000 perseribu ekor. Benih akan ditebar ke tambak udang seluas seperempat hektare. Proses budi daya dilakukan secara tradisional. Udang vaname yang dipanen pada usia 75 hari, dengan ukuran 100, dijual Rp50.000 hingga Rp60.000 perekor. Selain panen udang dengan hasil sekitar dua ton, ia bisa memanen ikan bandeng yang dipelihara bersama udang vaname.

Baca Juga
Lihat juga...