Wajik, Penganan Khas Perekat Silaturahmi

Editor: Satmoko Budi Santoso

217

BEKASI- Wajik, penganan yang berasal dari beras ketan, memiliki kekhasan tersendiri di setiap daerah. Di kalangan warga Kota Bekasi, wajik dianggap sebagai makanan perekat silaturahmi. Wajik menjadi menu wajib pada kegiatan tertentu seperti acara pernikahan atau besanan.

“Wajik menjadi perekat kebersamaan disamping kue lainnya, seperti dodol Betawi. Wajik di tempat lain juga ada, tapi khusus wajik Betawi ini memiliki ciri tersendiri,” kata Nurhayati, warga Betawi Bojongmenteng Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (9/2/2019).

Wajik, lanjutnya, menjadi pengisi panci atau rantang bawaan saat pulang, setelah menghadiri acara kawinan dalam tradisi Betawi. Wajik juga akan menjadi tanda ucapan terima kasih dari tuan rumah yang melaksanakan hajatan yang diberikan oleh pengantin dari pihak perempuan.

“Tidak hanya saat kawinan, wajik juga harus ada di setiap Lebaran Idul Fitri dalam tradisi Betawi. Setiap hajatan, besan akan memberi uli, dodol, dan wajik,” tandasnya.

Nurhayati – Foto: Muhammad Amin

Wajik Betawi ini terbuat dari bahan baku seperti beras ketan, kelapa, gula putih. Bagi yang suka pewarna maka bisa memilih pewarna yang disuka. Dari seluruh bahan tersebut, ketan dimasak terpisah dari gula dan kelapa.

Nurhayati juga memberi resep agar wajik tahan lama, maka bisa dicampur dengan agar-agar sehingga bisa bertahan lebih lama, bisa lebih dari dua mingguan. Hal lain seperti dicampur daun pandan dan ditambah garam secukupnya sebagai syarat saja.

Beras ketan diolah dengan cara diaron dengan air dingin. Kemudian didiamkan sekitar setengah jam. Setelah matang, maka selanjutnya kelapa parut dan gula yang lebih dulu dikukus, lalu ketan langsung dimasukkan menjadi satu, diaduk hingga merata.

“Membuat wajik cukup memakan waktu, apalagi kalau buat sampai 5 kilogram bahan beras ketan. Setidaknya, harus dibantu tiga orang, karena mengaduknya cukup berat,” jelas Nurhayati.

Baca Juga
Lihat juga...