Woloare, Kampung Gedek di Kabupaten Ende

Editor: Koko Triarko

ENDE – Menganyam bambu menjadi gedek, merupakan pekerjaan turun-temurun yang dilakukan masyarakat Woloare, Kelurahan Woworena, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.

“Setiap hari, pekerjaan kami hanya membuat gedek dan kami tidak takut tidak ada yang beli, sebab pembeli datang sendiri dari luar daerah. Pesanan juga banyak sekali dari luar kabupaten Ende,” sebut  Yosefina Mina, Selasa (5/2/2019).

Yosefina mengaku sejak kecil sudah diajak menganyam gedek bambu untuk dinding rumah yang banyak dipergunakan masyarakat di pedalaman kabupaten Ende, bahkan Flores. Kemampuan menganyam pun diwariskan secara turun-temurun.

Yosefina Mina, perajin gedek warga Woloare, Desa Woworena Kabupaten Ende. -Foto: Ebed de Rosary

“Kami juga mewariskan kepada anak-anak kami, sehingga bila mereka tidak bersekolah dan mendapatkan pekerjaan lain, maka mereka bisa menjadi perajin gedek seperti kami,” tuturnya.

Menurut Yosefina, gedek dengan panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter, dibutuhkan waktu sehari untuk menganyamnya. Ada gedek biasa dan ada yang berbentuk motif belah ketupat serta lainnya, sesuai pesanan pembeli.

Gedek biasa kami jual Rp40 ribu, sementara yang bermotif belah ketupat, bintang, pala dan lainnya, dijual Rp70 ribu. Gedek yang dibuat, kami tumpuk saja di rumah, nanti ada yang datang membelinya,” ungkapnya.

Dalam sebulan, Yosefina dan suami bisa menganyam hingga 90 gedek, dan mendapat pemasukan minimal Rp3 juta hingga Rp5 juta sebulan. Bambu diperoleh dari kebunnya di belakang rumah di sepanjang Kali Mati.

“Kadang juga bambu kami beli dari orang lain yang mengantarnya langsung ke rumah, dengan harga Rp10 ribu per batang. Bambu-bambu ini lalu kami potong ukuran 2 meter dan 1,5 meter, lalu dibelah dan dijemur selama dua hari, baru dianyam,” sebutnya.

Yosefina mengaku pernah mendapat bantuan dari pemerintah daerah, namun melalui kelompok. Dirinya lebih memilih bekerja sendiri, dan tidak terikat di dalam kelompok, sebab sudah terbiasa berusaha sendiri.

Philipus Kami, anggota DPRD kabupaten Ende yang juga ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Flores dan Lembata, mengatakan,menganyam gedek hampir dilakukan semua masyarakat di pelosok desa di Ende.

“Tapi yang lain hanya menganyam untuk keperluan sendiri, sementara di Woloare sejak dahulu mereka sudah hidup dari menjual gedek. Kampung itu sudah terkenal dengan sebutan kampung gedek, karena sebagian besar masyarakatnya menjadi perajin gedek,” tuturnya.

Woloare, kata Lipus, juga terkenal dengan pandai besinya yang menghasilkan parang yang dijual untuk keperluan lokal. Pemerintah harus menjadikan kampung ini sebagai kampung perajin dan memebrikan bantuan kepada perajin di sana.

“Yang paling penting, pemerintah harus mempromosikan hasil kerajinan tangan perajin di sana. Juga melakukan penataan wilayah Ini menjadi sentra perajin gedek di kabupaten Ende,” pintanya.

Lihat juga...