Angin Kencang, Padi Petani di Lamsel Roboh

Editor: Satmoko Budi Santoso

172

LAMPUNG – Mendekati masa panen musim tanam rendengan atau masa tanam pertama (MT1) sejumlah petani diresahkan dengan kondisi cuaca. Angin kencang disertai hujan deras yang melanda wilayah Penengahan membuat hektaran lahan padi sawah ambruk.

Sutilah, salah satu pemilik lahan padi sawah varietas IR 64 tinggi menyebut, sebagian padi miliknya roboh sebelum dipanen. Padi usia 90 hari tersebut rencananya akan dipanen saat usia 100 hari namun karena kondisi batang rebah ia mempercepat pemanenan.

Percepatan proses pemanenan disebutnya dilakukan menghindari kerusakan pada tanaman padi. Sebab jika ditunggu dalam waktu sepekan lagi kerusakan tanaman padi miliknya semakin parah. Akibat tanaman padi roboh ke tanah, bulir padi diakuinya rontok dan berpotensi berkecambah.

Sebagian lahan tanaman padi milik petani lain yang masih muda dengan serangan hama tikus diakuinya bahkan berpotensi memakan bulir padi yang rebah ke tanah.

Hujan deras disertai angin kencang disebut Sutilah terjadi sejak sepekan terakhir. Angin dari arah barat tersebut membuat semua tanaman padi menghadap ke timur. Proses pemanenan padi yang roboh disebutnya lebih sulit dibandingkan batang padi yang roboh.

Meski batang padi masih terlihat menghijau sebagian besar bulir padi miliknya disebut Sutilah terlihat menguning. Beruntung tanaman padi yang ambruk segera bisa dipanen dan segera dirontokkan secara manual menggunakan alat yang disebut gepyokan.

“Tanaman padi yang sudah tua langsung dipanen meski dalam kondisi ambruk namun sebagian yang masih menghijau terpaksa diberi tonggak kayu agar bisa dipanen sepekan lagi. Karena sebagian bulir padi masih menghijau,” beber Sutilah saat ditemui Cendana News tengah memanen padi miliknya, Minggu sore (17/3/2019).

Ambruk atau robohnya tanaman padi tersebut diakuinya cukup meresahkan karena bersamaan dengan musim penghujan. Genangan air yang berada di sawah diakuinya berpotensi merusak tanaman padi yang ditanam dengan sistem organik tersebut.

Sebelumnya ia menyebut menanam varietas padi Pandan Wangi yang rentan roboh. Saat beralih menanam padi varietas IR 64 tinggi ia mengaku masih tetap mengalami kendala terjangan angin kencang disertai hujan.

Sebelum tanaman padinya memasuki masa menguning dan roboh, tanaman padi miliknya sempat diserang hama lembing. Hama lembing tersebut mengakibatkan batang tanaman padi layu dan tidak berbuah meski penanganan awal dilakukan sehingga kerugian bisa ditekan.

Penggunaan pestisida untuk menyemprot lembing membuat tanaman padi miliknya selamat. Meski demikian hasil tetap berkurang dengan luas lahan sepertiga hektare sebelumnya mendapat 20 karung saat panen musim ini ia mengaku hanya mendapatkan 18 karung.

Serupa dengan Sutilah, petani lain bernama Marjoko mengaku padi yang roboh membuat ia cemas. Padahal sebelum padi menguning sejumlah hama mengganggu tanaman padi varietas Ciherang miliknya.

Ia menyebut sebelumnya harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyemprot tanaman padi menghindari hama lembing serta walang sngit. Sebelum padi menguning secara merata hama tikus membuat sebagian petak sawah miliknya rusak dan bulir padi tidak berisi.

“Hama tikus membuat batang padi patah serta bulir padi tidak berisi sehingga produksi pasti berkurang,” beber Marjoko.

Tanaman padi yang roboh disebut Marjoko lebih parah dibandingkan milik petani lain, pasalnya lokasi sawah berada pada hamparan yang tinggi. Sebagian tanaman padi yang tertutup oleh pepohonan dan juga kontur lembah lebih aman dari terjangan angin kencang.

Ia menyebut sepekan lagi tanaman padi miliknya baru bisa dipanen. Sebagai antisipasi padi berkecambah ia harus rajin mengalirkan air agar tidak menggenang di petak sawah.

Petani padi lain bernama Sandi mengaku, lebih beruntung karena menanam padi varietas Ciherang berukuran pendek. Padi ukuran pendek membuat terjangan angin tidak membuat padi roboh.

Sandi, salah satu petani pemilik lahan padi varietas Ciherang yang terkena hama walang sangit – Foto: Henk Widi

Robohnya sebagian tanaman padi di wilayah Penengahan diakui Sandi karena varietas padi berbatang tinggi dan angin disertai hujan berimbas tanaman lebih berat. Robohnya sejumlah tanaman disebutnya masih terjadi meski tidak luas.

Tanaman padi varietas Ciherang berusia sekitar 60 hari diprediksi akan dipanen saat usia 90 hari. Meski aman dari terjangan angin kencang, Sandi menyebut ia masih was-was dengan hama burung, tikus serta walang sangit.

Hama walang sangit yang menyerang bulir padi usia muda membuat tanaman padi miliknya rentan tidak berisi. Sebagai antisipasi kerugian ia melakukan proses penyemprotan insektisida pada pagi serta sore hari.

Sandi menyebut potensi angin kencang disertai hujan yang masih melanda membuat ia ikut cemas padi miliknya roboh. Sebagai antisipasi tanaman padi roboh sebagian padi yang cukup tinggi diikat dan diberi tonggak.

Proses pembuatan jalur khusus disebutnya ikut meminimalisir tanaman padi roboh. Robohnya padi diakuinya ikut berpotensi mengundang hama tikus yang mengakibatkan produksi menurun.

Baca Juga
Lihat juga...