hut

Anugerah Penghargaan Lomba Video Pendek Universitas Trilogi

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Maret merupakan bulan besar Jenderal H.M. Soeharto, Presiden Kedua RI. Universitas Trilogi mengumumkan para pemenang lomba video pendek 70 Tahun Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dengan tema “Para Patriot Penegakan Kedaulatan RI Serangan Oemoem 1 Maret 1949”.

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M, selaku ketua panitia penyelenggara bulan besar Soeharto mengatakan, bahwa acara di Universitas Trilogi merupakan bagian rangkaian dari Maret Bulan Soeharto yang sudah dimulai sejak tanggal 28 Februari lalu.

Diawali upacara tabur bunga, peringatan Serangan Oemoem 1 Maret di Yogya, pameran foto, seminar, dan saat ini juga diadakan pengumuman juara kompetisi lomba video pendek dan Trilogi Technopreneur 2019. Rangkaian acara ini akan ditutup pada tanggal 31 Maret dengan acara olahraga yaitu Patriot Run di Yogyakarta.

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M, Ketua Panitia Maret Bulan Besar Jenderal H.M. Soeharto memberikan sambutan. Foto: M. Fahrizal

“Saya menyambut baik acara yang dilaksanakan oleh Universitas Trilogi, khususnya di acara Trilogi Technopreneur 2019 yang diikuti sekitar 120 proposal dari seluruh Indonesia,” ucapnya, Rabu (27/3/2019) di Universitas Trilogi, Jakarta Selatan.

Dikatakan Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M, acara yang diikuti dari berbagai penjuru Indonesia menunjukkan minat generasi muda untuk ikut serta memberikan solusi bagi permasalahan bangsa.

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M, mengharapkan, agar acara ini bisa menjadi acara tahunan dan tentu diadakan tidak asal atau sembarang, hanya sebatas ajang kompetisi saja. Tetapi untuk mereaktualisasi nilai-nilai perjuangan pembangunan yang sudah dirintis oleh Presiden Soeharto, yaitu dengan trilogi yang meliputi pertama adalah stabilitas. Kedua adalah pertumbuhan pembangunan, dan yang ketiga adalah pemerataan.

Kegiatan Trilogi Technopreneur 2019 ini juga masuk ke dalam aspek pertumbuhan pembangunan. Diharapkan dalam jangka panjang, Indonesia bisa berdaulat dalam bidang teknologi. Itu juga salah satu cita-cita para founding fathers dan dimulai dari Universitas Trilogi.

“Semoga di masa yang akan datang bisa semakin banyak para peserta yang mengirimkan proposal dalam memberikan solusi bangsa. Tahun depan kita berharap, acara ini akan terus diadakan dengan peserta yang lebih banyak lagi dan juga mengikuti kegiatan di bidang lain,” katanya.

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M, mengatakan, pembangunan manusia yang utuh haruslah memiliki tiga kompetensi. Pertama adalah olah pikir diwakili dengan kompetisi technopreneur. Kedua olahraga diwakili dengan kompetisi lari tahunan, dan yang ketiga adalah olah rasa. Mungkin ke depan akan ditambahkan lomba di bidang seni untuk menumbuhkan rasa empati terhadap budaya bangsa.

“Selamat kepada para pemenang, saya berharap tidak hanya berhenti di proposal. Tetapi juga bisa digunakan lebih jauh, baik di program, maupun diimplementasikan dalam pembangunan,” ungkapnya.

Setelah melalui penilaian juri, terpilihlah 3 finalis video terbaik dari 19 video yang mengikuti kompetisi lomba video pendek tersebut. Dengan sistem penilaian yang begitu ketat, dilihat dari konten isi, konten dalam penyampaian ke publik, terpilih ASR TEAM dari SMAN 4 Pontianak dengan judul video Jas Merah menempati juara ke tiga.

Untuk juara kedua ditempati oleh Saka Mediatama dari SMA 1 Kalasan Yogyakarta dengan judul video Enam, dan untuk juara pertama, jatuh pada IR Production dari Makassar dengan judul video Idola yang Sesungguhnya.

Sementara untuk pemenang Trilogi Technopreneur 2019 terpilih Noval Eka Herdinata dari Surabaya dengan judul proposal Aingreis, Juara Kedua Muhamad Imam Fauzi dengan judul proposal Edufund, dan Juara Ketiga Ana Handayana dan Taufik Hidayatullah dengan judul proposal Smart University Application.

Ana Handayana dan Taufiik Hidayatullah, keduanya baru saja menyelesaikan kuliah di Universitas Mercu Buana. Dengan judul proposal Smart University Application berhasil menjadi terbaik ketiga dalam kompetisi Trilogi Technopreneur 2019.

Ana Handayana dan Taufik Hidayatullah. Foto: M. Fahrizal

Keduanya menawarkan pada dunia pendidikan untuk lebih mudah dalam berinteraksi, baik dengan pengajar maupun antarjurusan.

Dijelaskan Taufik, bahwa dirinya dan Ana, baru pertama kali mengikuti ajang ini. Ke depan akan berusaha lebih baik lagi dari sekarang. Dengan adanya kompetisi ini, dirinya dan Ana mendapatkan masukan-masukan dan pemikiran-pemikiran yang sangat membantu dalam program yang dirinya dan Ana buat.

“Diarahkan dan difokuskan ke satu titik program yang kita tawarkan. Dan itu semakin membuka pemikiran kita,” ucapnya.

Ana Handayana menambahkan, bahwa yang ditawarkan dari program tersebut yakni modul pendidikan dengan ada sedikit penambahan inovasi pada modul fintech.

“Lebih ke e-learning namun kita lebih terbuka, lebih bercabang. E-learning yang biasanya itu lebih ke forum, dosen memberikan tugas. Program yang kita tawarkan, bisa lebih smooth dengan interaksi secara online agar feel belajar semakin dapat,” ucap Ana.

Lihat juga...