Bantuan Fasilitas Dorong Bangkitnya Wisata Bahari di Lamsel

Editor: Satmoko Budi Santoso

195

LAMPUNG – Kerusakan kawasan wisata akibat bencana alam tsunami pada Sabtu, 22 Desember 2018 silam, membawa dampak kerusakan bagi kawasan wisata bahari di Lampung Selatan (Lamsel).

Upaya membantu masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, pelaku usaha jasa wisata, berbagai bantuan terus mengalir untuk membangkitkan sektor pariwisata. Bantuan untuk bangkitnya sektor pariwisata salah satunya diperoleh destinasi wisata pantai Tanjung Tuha Pasir Putih.

Didi Khoididi, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih, Desa Bakauheni menyebut, fasilitas wisata di wilayah tersebut mengalami kerusakan.

Ia menyebut destinasi wisata pantai Tanjung Tuha memiliki spot pantai Batu Licin, pantai Tanjung Tuha serta pantai Tanjung Tuha Pasir Putih. Tsunami diakuinya telah merusak fasilitas pantai di kawasan tersebut termasuk treking mangrove yang sedang dibangun.

Didi Khoididi, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Tuha salah satu kawasan wisata bahari di ujung selatan Pulau Sumatera – Foto: Henk Widi

Beruntung bantuan dari pemerintah melalui Kementerian Kelautan membantu memulihkan kerusakan tersebut.

Didi Khoididi menyebut, bantuan tersebut berupa program treking mangrove pusat restorasi dan pengembangan ekosistem pesisir, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Melalui bantuan tersebut ia mengaku, Pokdarwis akan bisa membangun tracking dengan lebar 120 cm dan panjang 700 meter. Semula ia menyebut tracking mangrove dibuat swadaya oleh anggota Pokdarwis dan masyarakat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Pascatsunami destinasi wisata bahari memang mengalami penurunan jumlah pengunjung namun beruntung ada dukungan dari sejumlah pihak untuk membangkitkan sektor pariwisata melalui dukungan fasilitas,” terang Didi Khoididi, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (17/3/2019).

Didi Khoididi menyebut, kawasan pantai Tanjung Tuha Pasir Putih menurutnya layak mendapat bantuan. Pasalnya sebagai objek wisata bahari kawasan tersebut menjadi kawasan konservasi yang dilakukan swadaya oleh masyarakat.

Kawasan konservasi yang dipertahankan berupa tanaman mangrove serta berbagai jenis tanaman di antaranya waru laut, sentigi, pandan laut serta tanaman pesisir pencegah abrasi. Kawasan seperti hutan mangrove tersebut sebagian tetap bertahan meski ada terjangan tsunami.

Bantuan dari Kementerian Kelautan disebutnya akan diaplikasikan dalam wujud jalur wisata kawasan mangrove. Pada sejumlah titik ia menyebut, tracking mangrove yang dibangun akan mempergunakan tiang pancang cor beton dan berlantai bambu, papan sehingga bisa dilakukan perbaikan saat mengalami kerusakan.

Sejumlah fasilitas berupa jembatan bambu, rumah pohon untuk memandang keindahan pantai Tanjung Tuha Pasir Putih juga akan dibenahi.

“Bantuan stimulan untuk pembangunan fasilitas pariwisata menjadi harapan bagi pengelola objek wisata untuk kembali membangun usai tsunami,” beber Didi Khoididi.

Didi Khoididi juga menyebut, di kawasan Tanjung Tuha saat terjadi tsunami mengalami kerusakan meski tidak separah wilayah lain. Meski demikian sebagai objek wisata bahari paling ujung Selatan pulau Sumatera, kawasan tersebut masih menjadi destinasi wisata favorit.

Destinasi wisata yang dipilih diakuinya selain menikmati keindahan pantai, tracking mangrove, sebagian menikmati aktivitas memancing. Kegiatan memancing dengan sistem memancing di tepi tebing (rock fishing) bahkan mulai ramai kembali usai tsunami.

Selain bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Didi Khoididi juga mengaku, mendapat dukungan dari program Pembinaan Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Program PKBL disebutnya berasal dari PT. ASDP Indonesia Ferry yang menyediakan dukungan konsultasi, pelatihan serta ruang untuk promosi wisata di dermaga eksekutif Pelabuhan Bakauheni. Selain itu dukungan untuk pemulihan sektor pariwisata bahari juga diberikan usai tsunami untuk perbaikan fasilitas.

Ira Puspadewi, Direktur Utama (Dirut) PT. ASDP Indonesia Ferry menyebut, melalui kegiatan PKBL dukungan sektor pariwisata juga diberikan. Sebab kawasan wisata Tanjung Tuha Pasir Putih terletak tidak jauh dari pelabuhan Bakauheni Lampung.

Ira Puspadewi, Direktur PT. ASDP Indonesia Ferry – Foto: Henk Widi

Ia menyebut dermaga eksekutif yang juga diberi nama Anjungan Agung merupakan bagian dari promosi wisata wilayah Lampung. Melalui Anjungan Agung ia berharap destinasi wisata di Lampung khususnya Lampung Selatan semakin dikenal. Sebab akses Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan pelabuhan semakin lancar.

“Pengembangan sektor pariwisata tentunya perlu dukungan berbagai pihak dan ASDP ikut berpartisipasi dengan fasilitas penyeberangan yang modern,” tegas Ira Puspadewi.

Pegiat wisata dari Komunitas Pemuda Peduli Wisata (Pelita) Lampung, Yodistira Nugraha, menyebut dukungan pemulihan pariwisata pascatsunami masih sangat diperlukan.

Yodistira Nugraha menyebut, Pelita dan komunitas Sakai Sambaiyan telah melakukan sejumlah langkah membantu pelaku usaha wisata untuk bangkit. Sejumlah langkah tersebut di antaranya menggandeng Pokdarwis di Desa Way Muli, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa yang rusak diterjang tsunami.

Selain pembuatan sarana baru di sejumlah fasilitas wisata ia menyebut, dukungan ekonomi juga dilakukan. Dukungan tersebut di antaranya penyediaan tempat kuliner penjualan kopi serta melakukan penanaman pohon di pesisir pantai.

Yodistira Nugraha juga mengapresiasi pihak Kementerian Pariwisata, Kementerian Kelautan dan PT. ASDP Indonesia Ferry yang ikut berkontribusi memulihkan sektor pariwisata bahari.

“Pelaku usaha, pegiat wisata di Lamsel tentu sangat berterima kasih adanya dukungan finansial dan fasilitas agar pariwisata Lamsel bisa pulih,” beber Yodistira Nugraha.

Lebih dari tiga bulan usai tsunami Yodistira Nugraha mengaku, sektor pariwisata bahari yang rusak mulai melakukan pembenahan. Ia menyebut wisatawan yang berwisata ke kawasan wisata bahari berangsur mulai pulih dan sejumlah Pokdarwis terus melakukan penataan fasilitas.

Keindahan pantai di wilayah Lampung Selatan yang berpotensi meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir terus ditata. Sebab lancarnya infrastruktur pelabuhan dan jalan tol ikut mendorong peningkatan kunjungan wisata ke Lampung yang mulai bangkit usai tsunami.

Baca Juga
Lihat juga...