Banyak Pekerjaan Rawan Tergusur Otomatisasi Era Revolusi Industri

Editor: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Wakil Gubernur Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim), Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc, mengatakan, di era revolusi industri 4.0 akan banyak sekali pekerjaan yang rawan tergusur otomatisasi. Bahkan dari data yang ada, sebanyak 52,6 juta pekerjaan berpotensi akan hilang.

Disampaikan Emil, salah satu tantangan di era revolusi Industri 4.0 adalah banyaknya pekerjaan yang hilang akibat otomatisasi. Revolusi industri 4.0 bukan hanya masalah robot, atau digital saja, tetapi juga bagaimana konektivitas mampu mengubah pola-pola industri.

Ada banyak teknologi yang mampu mengubah, mengembangkan dan merevolusi publik melakukan kegiatannya. Sebagai contoh, koperasi yang berada di Singapura telah menerapkan industri 4.0, teknologi untuk menginventarisir barang. Memindahkan barang dari gudang yang satu ke gudang lainnya dengan menggunakan Internet of Thing (IoT).

“Jadi antara gudang satu dengan gudang lainnya, selalu berkomunikasi yang tersambung dalam sebuah jejaring sehingga biaya untuk mengelola inventori, bisa dihemat sampai kurang lebih 30 persen,” ujarnya, saat memberikan kuliah tamu di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (6/3/2019).

Lampu penerangan jalan juga bisa diberi sim card, agar bisa terpantau lampu tersebut menyala atau mati dari jauh. Setiap benda sekarang sudah bisa dihubungkan ke internet, itulah yang disebut IoT.

Belum lagi saat ini sudah ada software akuntansi yang bisa melakukan 95 persen tugas seorang akuntan. Hal ini tentunya cukup mengerikan karena 95 persen fungsi akuntan yang sekolahnya empat tahun, bisa dilakukan oleh software.

“Oleh karenanya berdasarkan studi McKinsey pada tahun 2016, disebutkan bahwa 60 persen pekerjaan di dunia akan mengalami otomatisasi, tapi di sisi lain akan muncul 3,7 juta lapangan kerja baru,” terangnya.

Disampaikan Emil, otomatisasi tersebut berdasarkan sektor, dan yang paling rawan otomatisasi adalah sektor manufaktur sebanyak 65 persen. Sedangkan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 64 persen, konstruksi 45 persen, pertanian 49 persen dan ritel 53 persen.

Sedangkan lapangan kerja di masa depan yang akan berkembang di antaranya adalah digital marketing, manajemen media sosial, vlogger atau youtuber,  desain pengemasan produk, desain komunikasi visual, dan programing.

“Profesi-profesi inilah yang nanti akan banyak bermunculan yang disebut sebagai profesi milenial,” ucapnya.

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0 tersebut, ada beberapa strategi yang akan dilakukan pemprov Jatim.

“Strategi yang pertama adalah kita akan menjemput kemajuan global, kita akan menjemput masa depan. Oleh karenanya tidak cukup hanya membaca majalah atau berita dalam negeri saja, generasi muda khususnya mahasiswa UMM harus membaca berita dan majalah ilmiah yang ada di luar negeri. Karena kalau tidak, maka kita akan ketinggalan,” ungkapnya.

Kemudian paradigma lokalnya juga penting, karena masih banyak masyarakat yang mengalami stunting, banyak yang putus sekolah. Petani-petani juga masih tradisional sehingga gampang terpengaruh musim.

“Untuk itu kita lakukan dua-duanya, kita jemput masa depan dengan inovasi tapi kita juga berdayakan masyarakat kecil dengan keberpihakan. Itulah paradigma pembangunan Jawa Timur untuk 5 tahun ke depan,” pungkasnya.

Lihat juga...