Batal Dihukum Mati, Wilfrida Segera Kembali ke NTT

Editor: Mahadeva

391

MAUMERE – Wilfrida Soik, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Kabupaten Belu, NTT akhirnya dibebaskan. Wilfrida yang sebelumnya dituntut hukuman mati, akan segera kembali ke kampung halamannya. Sebelum perayaan Paskah pada 21 April, Wilfrida diperkirakan sudah bisa berkumpul bersama orang tua dan saudara-saudarinya.

Saat ini, Wilfrida masih menjalani perawatan di rumah sakit di negara bagian Johor Baru Malaysia. “Wilfrida Soik sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Johor Baru Malaysia. Tanggal 17 Maret ada tim dari Malaysia akan datang ke Belu ke rumah orang tuanya,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan koperasi Provinsi NTT, Sisilia Sona, Kamis (14/3/2019).

Tim dari Malaysia akan bertemu dan berdialog dengan Pemkab Belu dan Forkopimda Belu. Hal itu, untuk memastikan Wilfrida  mendapatkan kenyamanan saat sampai di kampung halaman. “Hasil kerja tim nantinya akan dilaporkan kepada Kesultanan Klantan, sehingga kita berharap sebelum Paskah, ini Wilfrida Soik bisa bebas, dan bisa berkumpul bersama orang tua dan sanak keluarganya,” sebutnya.

Kepala dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi provinsi NTT Sisilia Sona (tengah) bersama staf meninjauLTSA Maumere yang baru diresmikan. Foto : Ebed de Rosary

Saat meninjau Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, Sisilia menemukan banyak TKI asal NTT, yang bekerja di Malaysia secara ilegal. Bahkan ada satu perusahaan kelapa sawit, yang pekerjanya semuanya berasal dari Indonesia khususnya NTT. “Tapi hampir sebagian besar pekerja di Malaysia merupakan pekerja migran ilegal. Hampir setiap hari kedubes dan komjen selalu menghadapi persoalan terkait tenaga kerja ilegal ini,” sesalnya.

Mengenai Pekerja Migran Indonesia (PMI), bukan semata persoalan pemerintah. Sejak Januari hingga 12 Maret 2019, jelas mantan Sekretaris DPRD NTT tersebut, sudah 29 orang PMI asal NTT yang meninggal di luar negeri dan dikirim pulang. “Kami dihujat, Nakertrans NTT kerjanya apa saja, sebab setiap hari ada saja TKI yang meninggal. Padahal, kami juga kesulitan mendeteksi pekerja asal NTT, sebab sebagian dokumen pekerja asal NTT tersebut telah dirubah sehingga kami kesulitan mencari alamat tempat asalnya,” jelasnya.

Keberadaan Lembaga Lembaga Terpadu Satu Atap Perlindungan dan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (LTSA P3MI) Maumere, menjadi langkah pemberian perlindungan pekerja migran oleh pemerintah.

Direktur Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, Gabriel Goa Sola, mengatakan, lembaganya mendorong International Organization for Migration (IOM) untuk datang ke NTT. “Kami mendorong IOM dan International Labour Organization untuk hadir di NTT, dan menjadikan NTT sebagai pilot project. Dengan begitu, NTT bisa sama bahkan lebih hebat dari negara Philipina dalam urusan pekerja migran,” ungkapnya.

Kenapa harus NTT, karena daerah tersebut telah mengirim pekerja migran di bidang agama yang hebat, dan bekerja di berbagai negara di luar negeri. Potensi inilah, yang bisa dimanfaatkan untuk mendidik pekerja migran di NTT, agar berkualitas lebih baik.

Lihat juga...