Berikan Layanan Representatif, Rumah Sakit Saptosari Selesai Akhir Tahun

239

GUNUNG KIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menargetkan pembangunan Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari senilai Rp43 miliar di Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, selesai dibangun ada akhir 2019.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunung Kidul, Sri Suhartanta, di Gunung Kidul, Minggu, mengatakan pembangunan Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari ini bertujuan menyambut Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

“Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari ini letaknya sangat strategis karena berada di perbatasan antara Kabupaten Gunung Kidul dengan Kabupaten Bantul, dan berada di perlintasan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), serta pusat pariwisata di kawasan perbatasan. Pembangunan gedung ditargetkan selesai akhir 2019, dan Januari 2020 diharapkan bisa dioperasikan,” kata Sri Suhartanta.

Ia mengatakan, Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari ini diharapkan dapat memberikan pelayanan rawat inap kepada masyarakat sekitar, seperti di Kecamatan Saptosari dan Purwosari. Saat ini, warga yang sakit dan harus rawat inap, berobatnya di Bantul.

“Jarak dua kecamatan ini dengan RSUD Wonosari sangat jauh, lebih dekat dengan pelayanan RSU di Bantul. Untuk itu, pemkab mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Gunung Kidul, Eddy Praptono, mengatakan, Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari dibangun di lahan seluas 6.000 meter persegi. Calon rumah sakit ini direncanakan secara komprehensif dengan pertimbangan aspek medis, arsitektural modern dan mekanikal elektrikal yang canggih.

Desain modern sudah nampak dari fasade depan rumah sakit ini, dengan pemilihan material bangunan modern namun tetap adaptif terhadap lingkungan tropis.

Di sisi lain, pemilihan material juga memudahkan untuk pemeliharaan gedung mendatang. Adopsi peralatan medis yang canggih menambah sempurna desain rumah sakit ini tanpa ada perbedaan fasilitas di antara kelas rawat inap.

“Konsep sirkulasi dan zonasi area privat tetap mendukung adat istiadat penduduk setempat untuk secara leluasa dan nyaman  menjenguk pasien, namun tetap tidak menggangu aktivtas medis di dalam rumah sakit,” katanya.

Ia mengatakan, pembangunan Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari membutuhkan anggaran Rp34 miliar, yang dianggarkan secara tahun jamak.

Anggaran Rp34 miliar tersebut untuk membiayai bangunan gedung lengkap, beserta sarana dan prasarananya meliputi gedung A yang di dalamnya memuat instalasi gawat darurat, dua ruang operasi, lima ruang poli pemeriksaan, ruang tunggu periksa, ruang farmasi, ruang radiologi, laboratoruim, ruang rawat inap, ruang ICU, ruang isolasi, ruang jenazah, kantor direksi, dan ruang kontrol mekanikal elektrikal.

Eddy mengatakan pada 2019 ini, pemkab menganggarkan Rp9 miliar supaya secara optimal digunakan. Anggaran 2019 ini digunakan untuk halaman parkir, pembuatan gerbang masuk, jalan masuk serta penyempurnaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan pengadaan Generator Set 470 KVA.

“Kami targetkan pada akhir 2019 ini, Rumah Sakit Pratama Tipe D Saptosari dapat segera beroperasi dan mencapai tujuan utamanya yaitu mendekatkan dan memberikan layanan kesehatan yang representatif kepada masyarakat wilayah selatan,” katanya. (Ant)

Lihat juga...