hut

Bersama 1.000 Pejuang, Samdhy Kenakan Janur Kuning Serang Kota Yogyakarta

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Peringatan Serangan Umum 1 Maret, memang tidak bisa dipisahkan dari atribut Janur Kuning. Janur atau daun kelapa muda, akan nampak selalu dikenakan oleh setiap elemen masyarakat ketika mengikuti upacara peringatan Serangan Umum 1 Maret (SO 1 Maret). 

Berdasarkan sejumlah literatur sejarah, janur kuning terbukti digunakan sebagi atribut pasukan TNI dan laskar-laskar pejuang, ketika menyerang Kota Yogyakarta dalam SO 1 Maret. Janur kuning dipakai sebagai tanda atau kode, antar sesama pejuang Indonesia, agar tidak disusupi atau diketahui pihak Belanda.

“Dalam serangan itu, para pejuang memakai kode atau sandi. Berupa janur kuning di bahu mereka. Selain itu setiap bertemu mereka juga memakai sandi kata Mataram Menang. Ini sebagai tanda agar tidak ada yang membocorkan (rencana serangan) ke pihak Belanda,” ujar sejarawan UGM Julianto Ibrahim.

KRT Jatiningrat atau yang akrab disapa Romo Tirun – Foto: Jatmika H Kusmargana

Pengamat sekaligus pelaku sejarah, KRT Jatiningrat atau yang akrab disapa Romo Tirun, menyebut, pemakaian janur kuning dalam peristiwa SO 1 Maret, terinspirasi kisah pewayangan Ramayana dengan lakon Sugriwa dan Subali.

“Ketika perang antara Sugriwa dan Subali, Sri Rama kesulitan mengincar Subali, karena Sugriwa dan Subali ini kembar sehingga sangat mirip. Karena itulah Sri Rama kemudian meminta Sugriwa memakai janur kuning sebagai tanda. Akhirnya Subali bisa dipanah. Ide itu yang kemudian dipakai dalam Serangan Umum 1 Maret. Agar tidak ada penyusup,” jelasnya.

Salah seorang pelaku sejarah SO 1 Maret, Samdhy (91), warga Juminahan, Tegalpanggung, Danurejan, Yogyakarta membenarkan, pemakaian atribut Janur Kuning dalam SO 1 Maret 1949 di Yogyakarta.  Tergabung dalam kelompok Pleton III, yang dipimpin Aliadi, Brigade 17 Satuan Tentara Pelajar, Sub Wehrkreise 104, Samdhy mengaku masih ingat betul ketika Dirinya dan 1.000 lebih pasukan pejuang mengenakan janur kuning, saat hendak menuju Kota Yogyakarta, pada malam hari sebelum serangan dilancarkan.

“Jadi tanggal 28 Februari malam itu kita berkumpul di sekitar Pasar Godean untuk persiapan melakukan serangan. Saat itu ada sekitar 1.000 lebih pejuang. Disitu kita diberi arahan. Termasuk diberikan janur kuning sebagai tanda. Juga biskuit sebagai bekal makanan,” kata lelaki yang SO 1 Maret berlangsung masih berusia 18 tahun.

Pembagian Janur Kuning di sekitar kawasan Pasar Godean, sejalan dengan informasi yang menyebut, pengambilan janur kuning dilakukan di Dusun Sangonan Sidorejo, Godean, Sleman. Dusun yang merupakan salah satu pos persembunyian Letkol Soeharto bersama pasukannya. Lokasi Dusun Sangonan, sangat berdekatan, karena hanya berjarak 2,5 kilometer di sebelah barat Pasar Godean.

Lihat juga...