hut

‘Best Practice’ Soeharto Dipamerkan di Benteng Vredeburg

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Bulan Maret selalu identik dengan sosok Presiden Soeharto. Di bulan ke tiga inilah banyak peristiwa penting dan bersejarah yang melibatkan mantan orang nomor satu di Indonesia itu terjadi. Mulai dari peristiwa Serangan Umum 1 Maret hingga Supersemar. Tak heran, bulan Maret selalu disebut juga Bulan Pak Harto. 

Dalam rangka menyemarakkan Bulan Pak Harto tersebut, delapan yayasan yang didirikan Soeharto dalam kapasitasnya sebagai pribadi, rutin mengelar berbagai acara. Salah satunya pameran foto dan perjuangan Pak Harto, yang digelar bersamaan dengan Pameran Memperingati Peristiwa Serangan Umum 1 Maret, di Museum Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta, Jumat-Minggu (1-3/3/2019).

Ketua Penyelenggara Bulan Pak Harto, Arisetyanto Nugroho, yang juga Ketua Yayasan Supersemar. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Dalam pameran ini, dipamerkan berbagai capaian dan prestasi Soeharto saat masih berkarir di dunia militer hingga saat menjabat sebagai Presiden RI. Mulai dari foto-foto fragmen Soeharto saat menjalankan sejumlah misi militer sebagai panglima TNI, hingga piagam penghargaan dari PBB atas keberhasilan Soeharto menjalankan pembangunan di berbagai bidang ketika menjabat sebagai Presiden RI.

“Pameran ini menampilkan best practice (praktek terbaik) yang pernah dilakukan Soeharto sebagai tokoh nasional. Tidak hanya saat masih di militer, tapi juga saat menjadi Presiden. Karena peran Pak Harto, tak bisa ditampik sangat besar dan turut mempengaruhi perjalanan bangsa ini,” ujar Ketua Penyelenggara Bulan Pak Harto, Arisetyanto Nugroho, yang juga Ketua Yayasan Supersemar.

Melalui Pameran inilah, penyelenggara berharap agar masyarakat luas, khususnya generasi muda, mengetahui apa saja yang pernah dilakukan Pak Harto. Sekaligus belajar dan meneladani bagaimana Pak Harto membangun Indonesia dalam berbagai bidang, baik itu di bidang ekonomi, pangan, kependudukan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

“Semestinya kita sebagai sebuah bangsa bisa niteni (melihat) nirokke (menirukan) dan nambahi (menambah) best practice Pak Harto dalam membangun negara. Tidak usah cari referensi ke luar negeri. Karena kita sudah punya contoh terbaik. Bahkan, negara lain seperti Malaysia dan Usbekistan saja meniru apa yang sudah dilakukan Pak Harto. Kenapa kita tidak?” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, selama berkarir di dunia militer. Soeharto tercatat sebagai satu-satunya prajurit TNI yang pernah dan paling banyak menjadi panglima hingga delapan kali.

Sementara saat menjadi Presiden, Soeharto tercatat menerima sedikitnya empat penghargaan tingkat dunia. Antara lain medali tertinggi di bidang kependudukan “United Nation Pupulation Award” dari UNDP, karena berhasil menjaga jumlah populasi penduduk dengan penerapan program KB secara nasional.

Lalu, ada medali tertinggi di bidang pangan, “From Rice Importer to Self Sufficiency”  yang diberikan FAO, karena berhasil mencapai swasembada pangan.

Penghargaan tertinggi di bidang pendidikan, yakni “Avicenna Medals” dari UNESCO, karena dinilai berhasil memajukan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia melalui program wajib belajar.

Hingga penghargaan tertinggi di bidang kesehatan, yakni “Health For All Golden Medal Award” yang diberikan WHO, karena Pak Harto dinilai telah banyak berjasa dalam pembangunan kesehatan di Indonesia lewat program posyandu.

Tak hanya itu, Soeharto selama ini juga sering disebut sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, karena berhasil membangun Indonesia dalam berbagai bidang melalui program Repelita.

Lihat juga...