Buah Loa di Mekarsari Berasa Manis dan Renyah

Editor: Koko Triarko

207

BOGOR – Rasa buah Loa sebenarnya manis dan renyah. Namun, di dalam daging buahnya ada bintil-bintil biji yang berukuran kecil, sehingga buah ini kurang diminati.

Staff Agro Taman Buah Mekarsari, Supatmi, menjelaskan, tanaman Loa ini bersaudara dengan pohon Tin dan Beringin. Tanaman ini dikenal dengan nama berbeda di setiap wilayah Indonesia. Misalnya,  di Sunda, dikenal dengan nama Loa dan di Jawa disebut dengan nama Elok.

Gerombol buah Loa yang tumbuh di batang pohonnya -Foto: Ranny Supusepa

“Nama lain dari pohon ini adalah pohon Ara. Masih satu genus dengan Beringin, yaitu jenis Ficus. Kalau beringin itu, Ficus benjamina. Kalau Loa, Ficus racemosa,” kata Supatmi di Blok D Taman Buah Mekarsari, Jumat (15/3/2019).

Di habitat aslinya, pohon Loa banyak ditemui di hutan tropis dan daerah yang dekat dengan air. Seperti, di sisi rawa, di sisi sungai maupun di tepian kali.

“Batang pohon Loa mampu mencapai ketinggian 17 meter, bahkan di habitat aslinya ada yang mampu mencapai hingga 25 meter. Diameter batangnya sendiri biasanya sekitar 50 cm. Beberapa tanaman Loa, bahkan mampu mencapai diameter yang lebih besar.  Kecenderungan akarnya  besar dan banyak. Warna kulit batangnya coklat, dan jika dipegang halus,” papar Supatmi.

Pada batangnya ini, buah akan tumbuh secara bergerombol. Satu gerombol bisa mencapai minimal 20 buah, dengan ukuran masing-masing buah berdiameter 2 hingga 3 cm. Pada batangnya ini pula, akan muncul tunas baru.

“Buahnya berbentuk bulat dan kulitnya berwarna coklat saat muda. Saat matang, warna kulit buahnya berubah menjadi merah. Uniknya adalah daging buahnya yang berwarna putih ditumbuhi oleh bintil-bintil kecil. Dari buah muda hingga matang, hanya membutuhkan waktu sekitar 2 bulan,” urai Supatmi, sambil membuka salah satu buah Loa yang kulitnya sudah merah.

Supatmi menjelaskan, di seluruh batang dan bagian pohon Loa ini memiliki getah yang berwarna putih susu. Beberapa penelitian menyebutkan, getah ini bisa menyebabkan rasa gatal.

“Daun Loa berbentuk seperti daun Beringin. Berwarna hijau gelap dengan bentuk bulat telur sampai lonjong dan meruncing. Setiap daunnya memiliki bulu. Panjang daun sekitar 7,5 hingga 15 cm dan tangkai daunnya antara 2-7 cm,” ucap Supatmi.

Bunga Loa jarang terlihat, tiba-tiba yang terlihat hanya buahnya yang sudah mulai tumbuh. Perkembangbiakannya dibantu oleh serangga, seperti tawon atau bisa juga menggunakan cara stek dan cangkok.

“Dengan struktur batang dan akar yang kokoh, pohon Loa ini cocok sekali digunakan sebagai tanaman penahan longsor. Lagi pula, tanaman ini termasuk tanaman yang mudah tumbuh, selama akarnya tidak tergenang air,” ujar Supatmi.

Sementara itu, beberapa literatur menyebutkan, Loa juga cocok menjadi tanaman bonsai. Karena Loa memiliki jenis tampilan akar yang sangat bagus untuk ditonjolkan.

Pohon Loa banyak disebutkan dalam pengajaran agama Budha. Disebutkan, Sidharta Gautama mendapatkan pencerahan saat duduk di bawah pohon Bodhi, yaitu nama lain dari pohon Loa.

Sementara di dalam agama Kristen dan agama Yahudi, Ara disebutkan beberapa kali dalam kitab Ibrani dan kitab Perjanjian Lama.

“Belum banyak yang mengenal dan membudidayakan pohon Loa ini, karena banyak masyarakat yang tidak mengenalnya. Padahal, Loa ini termasuk buah yang menjadi sumber pakan utama hewan, seperti kelelawar dan monyet. Selain itu, beberapa artikel banyak yang menyebutkan tanaman Loa dapat dijadikan obat,” pungkas Supatmi.

Baca Juga
Lihat juga...