Cegah Terorisme, Toleransi Universal Perlu Dibangun

177

LHOKSEUMAWE  – Lemahnya literasi tentang toleransi dan kemanusiaan menjadi aksi brutal yang dilakukan oleh pelaku penembakan umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah salat Jumat di Selandia Baru.

Dosen pengajar ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, Aceh, Kamaruddin Hasan, Sabtu malam menyebutkan, bahwa aksi teror yang dipraktikkan oleh Brenton Tarrant terhadap umat Islam di Selandia Baru tersebut, menggambarkan bahwa dirinya tidak mampu memahami makna toleransi dalam dimensi yang lebih lebih luas (global).

“Semua yang ada di bumi ini memiliki nilai-nilai toleransi yang universal. Sikap dan sifat kemanusiaan serta kehidupan yang harmonis juga menjadi salah satu dasar bagi setiap penganutnya. Oleh karena itu, apa yang dipraktikkan oleh pelaku penembakan di masjid New Zealand adalah sebuah ketidakmampuan pelaku dalam memahami makna toleransi,” kata Kamaruddin.

Sebagaimana diketahui, bahwa pelaku penembakan yang bernama Brenton Tarrant berasal dari Australia dan menyita perhatian internasional atas aksi brutalnya, menjadi persoalan sensitif yang harus dilihat secara menyeluruh dan lengkap serta satu perspektif dalam mencari solusinya.

Lanjut Kamaruddin, dalam konteks komunikasi internasional, perlu penyebaran ide yang menggunakan suatu proses komunikasi menuju kehidupan sosial yang harmonis serta toleransi terhadap individu ataupun masyarakat di berbagai negara. Di antaranya adalah menanamkan gagasan kepada individu dan masyarakat negara lain agar membenci aksi terorisme.

Memperkuat hubungan diplomatik untuk memperluas pengaruh buruk paham dan aksi terorisme serta mewujudkan norma edukasi yang menuju kondisi toleransi dan menjunjung tinggi hak-hak dasar kemanusian yang bermartabat.

“Tujuan ini mempertajam cara pandang terhadap peristiwa yang masuk ke dalam ranah aksi terorisme. Karena terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan terbesar yang harus diantisipasi secara cepat dan global serta mencegah berbagai paham radikalisme. Selain itu, harus dipahami bersama pula bahwa terorisme sama sekali tidak identik dengan agama tertentu,” pungkas dosen ilmu komunikasi Unimal tersebut. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...