Dinkes Denpasar Gencar Sosialisasi Pencegahan TBC

Editor: Koko Triarko

199

DENPASAR – Dinas Kesehatan Kota Denpasar, melalui PPTI Cabang Kota Denpasar, terus gencar melakukan pencegahan kasus TBC (tuberkulosis). Setelah membentuk kader di desa/lurah se-Kota Denpasar, kini PPTI Cabang Kota Denpasar menggandeng PKK Kota Denpasar untuk melakukan sosialisasi.

“Untuk pencegahan TBC, lebih bagus bila melibatkan lebih banyak orang. Karena dengan demikian, kita harapkan masyarakat semakin memahami bahaya TBC. Karena selama ini masih banyak masyarakat yang tidak mau memeriksakan diri saat ada gejala TBC,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini, di sela sosialisasi bahaya TBC pada ibu-ibu PKK se-Kecamatan Denpasar Utara, di Kantor PPTI Cabang Kota Denpasar, Jumat (15/3/2019).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini. -Foto: Sultan Anshori.

Menurutnya, dengan adanya keterlibatan ibu-ibu PKK, diharapkan semakin meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap bahaya TBC .

Lebih lanjut, Sri Armini menambahkan, menurut survei prevalensi TBC di Indonesia tahun 2013-2014, diperkirakan 1.600.000 kasus dan insiden TBC sebanyak 1.020.000 kasus, serta mortalitas TBC mencapai 100.000 kasus.

Sampai saat ini, deteksi kasus TBC di Indonesia hanya 45 persen, dan 55 persen kasus belum dilaporkan. Sedangkan di Provinsi Bali, diperkirakan kasus TBC baru ditemukan 3.150 kasus atau 23,95 persen. Dari jumlah kasus di Provinsi Bali, 1.328 kasus ditemukan di Kota Denpasar, dari berbagai tipe penderita.

Dengan semakin banyak ditemukan kasus TBC, katanya, menunjukkan semakin meningkat kesadaran masyarakat akan bahaya TBC. Mengingat, satu penderita TBC dapat menular ke sejumlah orang.
“Tantangan Denpasar sebagai kota besar, penderita TBC selalu berpindah-pindah alamat tinggalnya. Sehingga kami sangat sulit untuk melakukan pengawasan. Dengan keterlibatan semua pihak, diharapkan dapat mencegah terjadinya penularan TBC,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PPTI Cabang Kota Denpasar, dr. I Made Sudhana Satrigraha, menyampaikan untuk mendidik masyarakat yang paling strategis adalah menyasar ibu-ibu, terutama ibu-ibu PKK.

Mengingat di dunia pendidikan pun, menyampaikan bahwa untuk mendidik masyarakat harus mendidik ibu-ibu terlebih dahulu. Mengingat ibu-ibu merupakan mercusuar dalam mendidik masyarakat, terutama mulai dari keluarga.

Meski demikian, menurut Satrigraha, masyarakat lain tetap diberikan pendidikan, sehingga dengan demikian semakin meningkatkan pemahaman masyarakat untuk bahaya TBC.

Diharapkan, melalui sosialisasi ini akan semakin meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, terutama masalah TBC. Menurutnya semakin meningkat temuan TBC di suatu wilayah, membuktikan semakin meningkat pula kepedulian masyarakat terhadap bahaya TBC.

“Karena dengan demikian, semakin cepat dapat dilakukan pencegahan penyebarannya,” pungkasnya.

Lihat juga...