Dua Korban Tenggelam di Pelabuhan Fery, Ditemukan Nelayan

Editor: Koko Triarko

1.287

MAUMERE – Pencarian korban tenggelam di pelabuhan fery Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, akhirnya membuahkan hasil. Tim keluarga dibantu para nelayan yang terus melakukan pencarian hingga malam hari, akhirnya menemukan jenazah dua korban.

“Tadi sekitar pukul 20.20 WITA telah ditemukan korban tengelam atas nama Yakobus Imanuel dan Wiwin Marianto Mitan, di pesisir laut Desa Namangkewa, Kewapante,” kata Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang, S.I.K, Jumat (8/3/2019) malam.

Menurut Rickson, setelah tim SAR menghentikan pencarian, pada jam 19.00 WITA, tim keluarga dibantu oleh tim relawan dari nelayan Kewapante, melakukan pencarian di sekitar lokasi tengelamnya kedua korban tersebut.

Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang, S.I.K. -Foto: Ebed de Rosary

“Pada pukul 20.20 WITA, para nelayan menemukan jenazah kedua korban dalam keadaan terapung di permukaan laut. Tim nelayan pun segera melaporkan ke Polsek Kewapante, dan diteruskan ke SAR Maumere,” ungkapnya.

Pada pukul 20.40 WITA, jenazah kedua korban berhasil dievakuasi ke darat, dan selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere menggunakan mobil SAR Maumere. Jenazah korban dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti jenazah, untuk dibawa ke rumah duka masing-masing.

Kepala Sekolah SMK Tawa Tanah, Selvius Leing, menyebutkan, Yakobus Imanuel atau biasa disapa Steven, merupakan siswa di sekolahnya yang seharusnya hari ini, Jumat (8/3/2019), mengikuti ujian USBN bersama teman sekolahnya.

“Bangku yang harusnya ditempati Steven akhirnya dibiarkan kosong dan ditulis nomor ujiannya di bangku tersebut. Steven harusnya mengikuti ujian di kelas XII jurusan Perawatan Sosial, bersama 24 siswa kelas XII lainnya,” ungkapnya.

Selain Steven, tambah Selvius, tiga siswa lainnya juga mandi bersama almahrum Steven dan Wiwin, namun berhasil selamat. Ketiga orang siswa tersebut yakni Firayuniati dan Nurhikmah, siswa kelas XII. Sedangkan satu siswa lagi duduk di kelas XI, atas nama Alimus Andrianus Raga.

“Dua siswi perempuan lainnya, yakni Firayuniati dan Nurhikmah, hari ini belum bisa mengikuti ujian USBN, karena masih lemah dan trauma. Kondisi keduanya tidak memungkinkan untuk mengikuti ujian,“ tuturnya.

Pihak sekolah, kata Selvius merasakan sangat kehilangan karena justru di saat hendak mengikuti ujian akhir, Steven harus mengalami musibah dan meninggal dunia. Sebelum pelaksanaan ujian, semua guru dan siswa memanjatkan doa bagi almahrum.

“Alamhrum Steven ini ada kakaknya yang kembar, namanya Stevan, yang saat ini merantau di Kalimantan Timur. Orang tuanya berasal dari Bajawa, Kabupaten Ngada. Bapaknya baru tahun lalu meninggal dan mamanya tinggal di Bajawa,“ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...